Ar-Rubayyi binti Muawidz bin Afra, Shahabiyah Pemberani

Perempuan Peradaban episode 6 kali ini bercerita tentang salah satu perempuan inspiratif yang hidup di zaman Rasulullah. Beliau adalah Ar-Rubayyi binti Muawidz bin Afra, diceritakan langsung oleh Ustadz kita, Salim A. Fillah agar dapat diambil hikmahnya.

Berkenalan dengan Perempuan Inspiratif, Ar-Rubayyi binti Muawidz bin Afra, Shahabiyah Pemberani dan Cerdas

Biasanya peran perempuan selalu di rumah, di belakang layar, dan biasanya tidak secara langsung berperan dalam dakwah. Namun hal tersebut adalah pemikiran usang yang tidak seharusnya kita pelihara.

Karena sebenarnya ada begitu banyak perubahan pandangan masyarakat terhadap perempuan sejak zaman Jahiliyah hingga Al Quran datang.

Misalnya saja Ibunda Aisyah yang cerdas, menjadi pengajar bagi sahabat, thabi’in dan thabiat tentang hadist Rasulullah. Bahkan Ibunda Khadijah menjadi pengusaha di masa muda hingga saat mendampingi Rasulullah. Perempuan-perempuan tersebut memegang peranan penting dalam dakwah Islam¬†bukan?

AlQuran membawa perspektif baru dan menjelaskan bagaimana kedudukan perempuan dalam Islam yang sebenarnya. Jika dulu, di banyak suku dan bangsa perempuan dianggap terkutuk dan kotor. Namun ketika Quran datang, Islam membalik semua keadaannya itu.

Salah satu bukti nyata yakni lahirnya seorang perempuan inspiratif bernama Ar-Rubayyi, seorang shahabiyah pemberani.

Ar-Rubayyi merupakan seorang shahabiyah yang luar biasa. Beliau tidak hanya menonjol dalam perjuangannya di medan perang, namun juga kecerdasan beliau diakui oleh Rasulullah dan juga Ibunda Aisyah.

Siapakah Shahabiyah Pemberani Ini?

Ar Rubayyi adalah putri seorang sahabat bernama Muawidz bin Afra. Muawidz adalah salah satu sahabat Rasulullah yang gugur syahid di perang Badar. Muawidz merupakan salah satu putra dari Afra, di mana beliau adalah tiga bersaudara. Adapun ketiga orang putra Afra dipuji oleh Rasulullah karena ketiganya adalah mujahid dan syahid di jalan Allah.

Dalam perang Badar, ketika Uqbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah dan Walid bin Utbah menjadi tokoh Quraisy pertama yang berduel dengan kaum Muslimin. Lalu ketiga putra Afra inilah yang maju pertama kali untuk melawan mereka.

Hanya saja waktu itu Utbah mengatakan : “kita tidak selevel, kalian hanya anak-anak, bocah masih kecil dan bukan orang Quraisy.”

shahabiyah pemberani Rubayyi

Lalu Rasulullah meminta mereka mundur dan menunjuk Sayyidina Ali, Hamzah dan Ubaidillah (semua kerabat Rasulullah dari Bani Hasyim) hingga akhirnya mereka bertiga lah yang berduel menghadapi kaum Quraisy.

Namun Muawidz inilah yang paling gigih hingga datang ke Abdurrahman bin Auf bertanya pada beliau, “Wahai Paman, yang manakah Abu Jahal? Aku ingin menghadapinya.”

Lalu dijawab, “kenapa kalian mencari Abu Jahal?”

“Demi Allah kami pernah mendengar Abu Jahal menyiksa Rasulullah dan menghina Rasulullah, kami ingin membunuhnya.” Jawab Muawidz. Lalu Abdurrahman bin Auf menyebutkan ciri-ciri Abu Jahal, dan tiga orang anak muda tersebut langsung menyerbu ke rumah Abu Jahal.

Namun saat itu dihadang oleh Ikrimah (putri Abu Jahal) hingga lengan kedua pemuda tersebut tertebas dan membuatnya tersungkur. Lalu bangkit lagi dan tetap fokus untuk menghadapi Ikrimah meskipun lengannya sudah tertebas. Sementara Muawidz menyerang Abu Jahal yang akan naik kuda, hingga Muawidz berhasil menusukkan pedangnya pada Abu Jahal.

Ternyata hingga perang Badar berlangsung saat itu, Abu Jahal masih sekarat dan ditemukan oleh Ibnu Mas’ud. Saat ditanya apakah ia menyesal dengan perbuatannya? Nyatanya Abu Jahal tidak menyesal sama sekali. Sehingga Ibnu Mas’ud pun memenggal kepala Abu Jahal.

Dari riwayat para sahabat disebutkan bahwa Muawidz saat itu masih sangat muda, usianya sekitar 20-an. Pemuda gagah berani dan tak ragu menghadapi musuhnya.

Dalam perang Badar tersebut, Muawidz bin Afra syahid. Lalu beberapa tahun pasca gugurnya Muawidz bin Afra, Rasulullah mengetahui ternyata putrinya Muawidz akan menikah, yakni Rubayyi.

Kedekatan Rasulullah dengan Rubayyi binti Muawidz bin Afra

Dalam pernikahan Rubayyi, pamannya lah yang menjadi wali. Saat itu Rubayyi diberi hadiah oleh Rasulullah dan beliau mendoakan dan memberikan nasihat secara khusus dan langsung pada Rubayyi di kamar pengantinnya. Seakan-akan Rasulullah menunjukkan kedekatan dengan Rubayyi sebagai pengganti Ayahnya. Menguatkan Rubayyi setelah kehilangan Ayahnya.

Rasulullah juga menghadiahkan perhiasan pada Rubayyi. Hal ini menunjukkan betapa besarnya rasa sayang Rasulullah pada Rubayyi.

Memang pada saat itu kedudukan syuhada perang Badar saat itu sangat tinggi di sisi Allah dan RasulNya. Para mujahid yang masih hidup saja dikatakan diampuni segala dosa-dosanya, apalagi yang syahid.

Disebutkan Ar Rubayyi juga tak pernah merasa minder atau rendah diri sedikitpun di hadapan kaum kafir Quraisy.

Karena kedekatan Ar Rubayyi dengan Rasulullah, kadang ketika Rasulullah mengerjakan sesuatu, Ar Rubayyi diminta untuk menolong Rasulullah. Salah satu hutang kaum Muslimin terhadap Rubayyi ini adalah hadist tentang wudhu. Hadist yang paling mendetail yang disepakati oleh Bukhori dan Muslim di antara 21 riwayat lainnya.

Rubayyi mengatakan:

“Saat itu aku mendatangi rumah Ibunda Aisyah, ketika itu Rasulullah akan berwudhu dengan bejana. Wahai putriku mari tuangkan air untuk berwudhu. Lalu Rasulullah membasuh tapak tangannya, berkumur 3 kali dan membersihkan hidungnya. Kemudian beliau membasuh seluruh wajahnya dari tempat tumbuhnya rambut sampai ke batas lehernya. Lalu beliau membasuh ¬†tangannya sampai ke sikunya 3x, kemudian beliau membasuh kepalanya dan membersihkan telinganya dan membasuh kakinya dengan sempurna sampai mata kaki.”

Ini diceritakan dengan detail oleh Rubayyi, hingga akhirnya hadist ini dijadikan rujukan dan aimmah oleh umat Muslim di seluruh dunia. Termasuk juga dijadikan rujukan oleh Imam Malik.

Rubayyi juga seorang mujahidah. Beliau selalu bergabung dengan perang-perang bersama Rasulullah. Rubayyi mengikuti semua gazwah (perang yang dipimpin langsung oleh Rasulullah) dan sariyyah-sariyyah (perang yang dipimpin oleh sahabat atas perintah Rasulullah) penting.

Rubayyi selalu mampu menempatkan diri di mana pun ia ditugaskan. Mulai dari berperang di garis depan, merawat luka, hingga memastikan losgitik terpenuhi. Rubayyi adalah perempuan multitalenta dan selalu mencari peluang di mana ia bisa memberikan yang terbaik.

Banyak murid-murid Rubayyi binti Muawidz bin Afra ini dan banyak dari beliau meriwayatkan hadist. Sehingga menjadikan Rubayyi sebagai salah satu ulama perempuan yang hebat kala itu.

Semoga kisah Shahabiyah pemberani, Rubayyi binti Muawidz bin Afra ini dapat menginspirasi kita semua dan memberikan pelajaran bahwa perempuan bukanlah batasan untuk berjuang di jalan Allah. Bukan pula batasan untuk kita berhenti menuntut ilmu.

Kisah Rubayyi membuktikan bahwa Islam juga memberikan kesempatan yang sama pada perempuan untuk berjuang dan ikut ambil bagian dalam dakwah Rasulullah untuk menyelamatkan kita semua dari pedihnya balasan di akhirat kelak.

Yuk ikuti kisah inspiratif lain dari Series Perempuan Peradaban di sini yuk!

Leave a Comment

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)