Kisah Maryam, Perawan Suci Baitul Maqdis, Perempuan Peradaban Ep 4

Kisah Perempuan Peradaban masih berlanjut ke episode 4 bersama Ustadz Salim A Fillah. Kali ini akan membahas tentang kisah Ibunda Maryam yang dijuluki Perempuan Suci Baitul Maqdis.

Yuk ikuti kisahnya!

Perempuan Peradaban Episode 4 : Kisah Maryam 

Allah menjadikan Sayyidah Maryam binti Imran sebagai salah satu di antara dua wanita di dalam Al Quran yang menjadi perumpamaan bagi orang-orang beriman. Rasulullah juga menjadikan Maryam sebagai salah satu dari empat perempuan terbaik sepanjang masa.

Nasab beliau pun luar biasa, sekaligus Allah mengaruniakan pada beliau sesuatu yang tidak dikaruniakan Allah pada perempuan lain di dunia. Sampai-sampai nama beliau menjadi salah satu nama surat di Al Quranul Karim.

Dalam buku The Choice Syaikh Ahmad Jidad, dia pernah memberikan potongan kisah Maryam dari Quran dan dijejerkan dengan kisah Maryam dari Bibble. Lalu beliau bertanya pada penontonnya dan juga para pendeta : mana versi yang lebih kalian sukai ketika menceritakan kesucian Maryam? Mereka menjawab versi Al Quran adalah yang paling mengena dalam hati mereka.

Itulah salah satu mukjizat Al Quran. Seperti itulah kata-kata Al Quran tentang Maryam dan juga Isa. Hingga Raja Najasyi kala itu maupun uskup-uskupnya berlinang air mata ketika mendengar paparan tentang Sayyidah Maryam kala itu dari Al Quran.

Al Quran memberikan gambaran yang sangat suci tentang Sayyidah Maryam. Dimulai dengan menyatakan bahwa keluarga Maryam adalah keluarga terpilih dan dimuliakan oleh Allah di muka bumi ini.

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam dan juga Nuh dan juga keluarga Ibrahim dan juga keluarga Imran. Allah telah memilih mereka di atas semua makhluk di alam semesta. Sebagian itu menjadi anak keturunan bagi yang lain.

Keluarga Imran ini oleh Allah diberikan satu ujian pada saat itu. Dimana dalam waktu yang lama, istri Imran bernama Hanna belum memiliki keturunan. Jika hubungan suami istri tidak paripurna, salah satunya karena belum dikaruniai anak.

Quran menggunakan kata “imroatu”dalam Quran karena hubungannya belum atau tidak paripurna. Kalau pasangan suami istri yang paripurna Al Quran akan menggunakan kata zawjah.

Lahirnya Maryam di Keluarga Imran

Suatu ketika Hanna, istri Imran, bernadzar pada Allah, “Ya Allah sesungguhnya aku menadzarkan bayi yang nantinya dalam kandunganku ini sebagai seorang mukhoror.”

Mukhoror ini artinya adalah sebagai orang yang mengabdikan dirinya (dalam hal ini sebagai ahli ibadah). Adapun saat itu memang keluarga Imran tinggal di dekat Baitul Maqdis.

Lalu Allah pun menakdirkan Hanna hamil dan melahirkan. Ternyata Allah mengaruniai Hanna bayi perempuan. Hanna mengira perempuan tidak sama dengan laki-laki, tentu ia memiliki batasan untuk beribadah di Baitul Maqdis. Namun Allah sudah menerima nadzar tadi.

Maka Maryam tetap akan dipasrahkan pada Baitul Maqdis. Qadarullah saat itu Ayahnya (Imran) meninggal dunia.

Lalu harus dipilih seorang kafil, yakni seorang yang menjadi penanggung nafkahnya Maryam. Karena Maryam adalah anak yang istimewa (lahir ketika orang tuanya di usia senja bahkan hampir mustahil), maka para ahli Taurat berebut untuk menjadi penanggung jawab Maryam.

Namun karena tidak mencapai kata sepakat, akhirnya mereka pun mengundi siapa yang akan menjadi Kafil-nya atau pendamping Maryam dengan cara melemparkan pena-pena mereka di sungai Jordan. Pena siapa yang tidak tenggelam maka ia lah yang akan menjadi pendamping Maryam.

Nabi Zakaria Menjadi Kafil Maryam

kisah Sayyidah Maryam

Ternyata pena yang tidak tenggelam adalah pena dari Nabi Zakaria. Dalam satu riwayat, disebutkan bahwa Nabi Zakaria sendiri adalah paman dari Maryam (yakni suami dari adiknya Hanna).

Maryam pun diasuh oleh nabi Zakaria. Lalu Nabi Zakaria berijtihad dan mengusulkan pada para pengurus Masjidil Aqsa bagaimana caranya agar Maryam memiliki tempat khusus di Baitul Maqdis untuk Maryam. Yakni di bagian kiri jami’ qibli (ada tempat salat Maryam di sana). Akhirnya musyawarah Bani Israil menyetujui mihrab khusus Maryam tersebut.

Di situlah setiap hari Maryam beribadah, salat dan membaca kitab Taurat, beribadah pada Allah sepanjang waktu. Allah menjulukinya sebagai perempuan yang sangat tekun beribadah, atau al batun (wanita yang sangat taat beribadah). Sampai-sampai Nabi pun sangat takjub pada Maryam.

Suatu ketika Nabi Zakaria memastikan akan kebutuhan Maryam terpenuhi. Namun siapa sangka ketika Maryam membuka mihrab untuk pamannya, didapatinya rizki yang berlimpah di dalamnya. Berbagai macam buah-buahan dan juga minuman ada di dalam mihrab tersebut.

Setiap kali Nabi Zakaria bertanya, “darimana kamu dapat ini?” Maryam menjawab, “semua ini berasal dari Allah Subhanahu wa ta’ala.”

Ini menjadi pengingat bagi kita semua yang memakmurkan masjid, niscaya Allah tidak akan meninggalkan kita. Sayyidah Maryam ini Allah muliakan ketika ia fokus beribadah dan semua rizkinya dijamin oleh Allah.

Hal ini menjadi sebuah cermin bagi kita, kalau kita mengurusi rumah Allah, insya Allah rizki kita juga dicukupkan oleh Allah.

Maryam beribadah di setiap waktu dan setiap keadaan. Hingga suatu saat datang ujian yang besar padanya.

Ujian Terbesar Maryam

Melalui ujian yang menimpa Maryam ini kita akan belajar tentang ujian terberat kita yang akan datang pada apa yang kita junjung tinggi. Nabi Ibrahim diberi ujian tentang keluarganya karena beliau menjunjung tinggi cinta dan keluarganya. Nabi Ibrahim diuji tentang anak yang dicintainya.

Nabi Muhammad menjunjung tinggi kejujuran beliau, hingga diberi gelar Al-Amin sejak kecil. Hingga beliau diberi wahyu dan orang-orang mengatakan “kami tidak percaya padamu”. Padahal selama 40 tahun kata-kata beliau selalu dipercaya.

Lalu Sayyidah Maryam, sebagai seorang perempuan yang tinggal di Masjidil Aqsa, ia menjunjung tinggi kesuciannya. Allah mengujinya di situ. Yakni dimulai dengan kedatangan Jibril dalam bentuk laki-laki berparas sempurna ke mihrab Maryam.

Allah menggambarkan kesempurnaan akhlaq Maryam sebagai akhlaq yang mulia. Yakni ketika didatangi Jibril dalam rupa seorang laki-laki yang sempurna justru Maryam memohon perlindungan pada Allah, tidak memuji lelaki di hadapannya sedikit pun.

“Sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada Allah yang Maha Kekasih dari dirimu dan semoga engkau orang yang bertaqwa.”

Lalu saat itu Jibril memberikan kabar gembira yang justru menjadi ujian bagi Maryam.

“Sesungguhnya Tuhanmu memberikan kabar gembira padamu yakni lahirnya dari rahimmu yang suci seorang anak yang istimewa yang tak ada duanya.”

“Bagaimana mungkin akan lahir dariku seorang anak sementara aku tak pernah berdekatan dengan lelaki manapun?”

“Maka itu adalah sesuatu yang sangat mudah bagi Allah.”

Dari situlah Maryam diuji dan mulai mengalami gejala-gejala kehamilan. Maryam takut hal ini akan menjadi fitnah bagi kaumnya. Ia pun meninggalkan kaumnya menuju ke suatu tempat di wilayah Timur dari Baitul Maqdis, yakni kota Baitul Lahim atau Betlehem.

kota lahirnya Nabi Isa
kota Betlehem saat ini

Beliau mencari tempat tersembunyi hingga datanglah waktu persalinan dan lahirlah putranya, Isa Ibn Maryam.

Ada satu kalimat dari lisan Maryam yang keluar :

“Seandainya aku mati saja sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang dilupakan lagi tak berarti.”

Kalimat ini lebih karena beliau mengkhawatirkan orang-orang akan berdosa sebab dirinya. Akan ada ghibah, suudzon dan melakukan hal buruk dan ucapan-ucapan keji pada dirinya. Agar orang-orang tidak menjadi buruk sebab dirinya.

Ulama juga mengatakan bahwa kalimat Maryam tersebut menunjukkan kepasrahan yang tidak total pada Allah. Keyakinan pada Allah tersebut tidak bulat, tidak utuh. Dari sinilah kita membutuhkan ikhtiar, karena kepasrahan yang tidak utuh.

Lalu Allah memerintahkan :

“Dan goyangkanlah pokok pohon kurma di dekat kakimu itu sehingga akan jatuh padamu kurma yang ranum dan segar.”

Lagi-lagi pelajarannya adalah ikhtiar itu lebih penting daripada hasil. Allah memerintahkan Maryam untuk berikhtiar agar kurmanya jatuh.

Reaksi Kaum Bani Israil Terhadap Maryam dan Isa ‘alaihissalam

Setelah selesai dari persalinan, ia datang pada kaumnya dan hatinya telah pasrah dari Allah. Namun kaumnya mengatakan :

“Wahai Maryam sesungguhnya Bapak Ibumu dulu bukan orang yang nakal. Bisa-bisanya kamu punya anak tapi kamu tidak punya suami?”

Lalu Allah berfirman pada Allah untuk menunjuk putranya. Lalu Maryam menunjuk bayi dalam gendongannya sebagai tanda “biarkan bayi ini berbicara” yang kemudian dijawab oleh Bani Israil :

“Bagaimana mungkin kami bisa berbicara pada bayi yang masih menyusu?”

Namun bayi itu justru berbicara : “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah. Dilahirkan oleh Ibu yang suci tanpa perantara seorang laki-laki karena aku adalah karunia dari Allah.”

Akhirnya sebagian orang-orang tersebut percaya dengan keajaiban tersebut bahwa bayi tersebut adalah bayi yang suci dan karunia dari Allah.

Namun sebagian yang lain tidak percaya dan menjadikan Maryam sebagai musuh mereka.

Pada masa itu Bani Israil memang dalam ketakutan yang nyata, apalagi tengah menghadapi musuh yang kuat, yakni kekaisaran Romawi. Oleh karena itu mereka berani membunuh nabi-nabinya karena takut dijajah oleh orang-orang di luar bangsa mereka.

Termasuk Nabi Zakaria dan Nabi Yahya dibunuh dengan kekejaman yang luar biasa. Demi ketakutannya pada penjajah. Itulah termasuk penghianatan mereka pada Nabi-Nabi.

Hingga dilanjutkan ketika Nabi Isa diangkat menjadi Nabi, beliau menghadapi musuh-musuhnya dari kalangan orang-orang ini. Hingga Nabi Isa mendapatkan Kitab Injil di usianya yang sudah dewasa.

Hikmah dari keteladanan Maryam di sini adalah bagaimana ia beribadah pada Allah, menjaga kesuciannya, dan dalam kondisi tertentu kita harus berikhtiar dan berjuang untuk mendapatkan rizki dari Allah. Namun kita hanya perlu yakin karena sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.

Semoga kisah Maryam yang suci ini menjadi inspirasi dan penyemangat bagi kita semua ya.

Ikuti juga episode lain kisah-kisah Perempuan Peradaban di sini ya!

Leave a Comment

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)