Kisah Al Khansa binti Amr, Ibunda Para Syuhada

Salah satu sosok perempuan yang bisa memberikan motivasi bagi kita semua dalam episode Perempuan Peradaban Episode 5 kali ini adalah Al Khansa binti Amr yang diceritakan dengan sangat baik oleh Ustadz Salim A Fillah.

Simak yuk!

Siapakah Al Khansa binti Amr?

Al Khansa adalah julukan dari seorang perempuan yang bernama Tumadhar binti Amru bin Sharid bin Al Usayyah As Sulamiyah, seorang dari Bani Sulaim yang merupakan bagian dari Suku Mudhor yang saat itu menjadi salah satu suku terbesar dan terkenal di Najet.

Al Khansa menjadi julukan beliau sebagai penyair hebat. Adapun nama Tumadhar adalah nama lahir beliau. Jika kita melihat list para shahabiyah, nama Tumadhar ini merupakan salah satu nama dari istri sahabat Abdurrahman bin Auf yang berasal dari suku Kalb yang juga ada di Najet.

Namun Tumadhar yang dimaksud di sini adalah Tumadhar yang disebut sebagai Al Khansa.

Pada masa jahiliyah beliau kehilangan dua orang saudaranya, yakni Muawiyah dan Shakr. Mereka tewas dalam peperangan Jahiliyah. Sehingga ketika Al Khansa masuk Islam dan hijrah ke Madinah, beliau masih bersyair tentang kedua saudaranya yang selama ini menjadi sandaran dan juga tumpuannya itu.

Khansa masih mengungkapkan kesedihannya melalui syair-syairnya. Lalu Sayyidina Umar menegurnya, “ada apa denganmu? Kenapa kamu masih meratapi orang-orang yang meninggal di masa lalu? Mereka berdua adalah ahli neraka.”

Maka Al Khansa menjawab, “justru itu sesungguhnya dulu aku meratapi mereka karena sedih kehilangan namun sekarang aku meratapi mereka karena kasihan, karena mereka belum kenal Islam, belum sempat berbaiat pada Allah dan RasulNya, dan belum memeluk Islam sehingga mereka harus menanggung siksa yang pedih.”

Al Khansa, Penyair Hebat yang Diakui Rasulullah

al khansa sang penyair

Al Khansa ini suka sekali membuat syair hingga kalimat indah yang keluar dari mulut beliau selalu dikagumi oleh masyarakat di sekitarnya. Apalagi saat itu bangsa Arab sangat menyukai syair. Sehingga tidak heran Al Khansa sangat dihormati.

Bahkan kemampuan bersyair Khansa ini dipuji oleh Rasulullah dan dibanggakan oleh sukunya. Salah satunya suku dari bani Al Hatim saat itu.

Suatu ketika Adi bin Hatim mendatangi Rasulullah dan mengatakan : “Wahai Rasulullah sesungguhnya di tengah kami ada orang yang paling hebat dalam bersyair dan paling dermawan dalam bersedekah.”

Maka Rasulullah bertanya pada mereka : “Siapakah mereka wahai Adi bin Hatim?”

Orang yang paling hebat dalam bersyair adalah Umru’ul Qais (sampai sekarang masih dikenal sebagai sastrawan terkenal hingga dijadikan referensi dalam menafsirkan kalimat pada Quran), kemudian yang paling dermawan adalah Ayah saya (Hatim).

Rasulullaah bersabda: “Demi Allah Wahai Adi, aku punya tandingannya. Yang paling hebat dalam hal bersyair adalah Al Khansa bukan Umru’ul Qais.”

Sabda Nabi tersebut juga menyatakan secara tersirat bahwa yang paling dermawan adalah Rasulullah, bukan orang lain termasuk Ayahnya Adi bin Hatim.

Luar biasanya Rasulullah mengakui penyair perempuan yang paling hebat dibandingkan Umru’ul Qais. Kehebatan Khansa diakui oleh para penyair yang lain dengan syairnya yang punya makna mendalam. Untuk diketahui, kedudukan penyair di masa itu memang sangat terhormat.

Sayyidah Al Khansa juga bergaul dengan orang-orang dari sukunya yang masuk Islam. Al Khansa masuk Islam di tahun ke-7 Hijriah bersamaan dengan Adi bin Hatim yang juga seorang penyair.

Hal ini menunjukkan bahwa semakin Islam berinteraksi dengan berbagai macam peradaban maka perlu semakin banyak penjelasan-penjelasan tentang apa yang diturunkan oleh Allah melalui Quran.

Maka di sinilah peran Rasulullah dan juga peran sahabat untuk memberikan pemahaman pada mereka tentang makna dari ayat-ayat dalam Al Quran itu sendiri.

Memahami AlQuran tanpa bimbingan ulama, hanya dengan mengandalkan sastra Arab maupun kaidah bahasa, akan fatal akibatnya. Oleh karena itulah AlQuran sangat kompleks dan untuk itulah kita membutuhkan petunjuk Rasulullah melalui Hadist beliau. Agar kita tidak sembarangan menyimpulkan sendiri.

Al Khansa yang Juga Dijuluki Ummul Syuhada’

al Khansa binti Amr

Al Khansa ini mendidik putra-putranya dengan didikan luar biasa sebagai para lelaki yang berjihad di jalan Allah. Sampai suatu ketika terjadi perang Qadisiyah yang berlangsung antara kaum Muslimim melawan kemaharajaan Persia saat itu.

Di mana Persia telah memilih panglima yang sangat hebat bernama Rustam yang membawa 300.000 pasukan dan sangat mengancam kedudukan kaum Muslimin saat itu.

Saat itu Persia juga merasa takut bahwa kehadiran Islam saat itu akan melindas mereka karena kekuatan yang tak terbendung dari semangat serta visi misi yang seragam mulai dari pimpinan hingga prajuritnya. Terlebih setelah Syam jatuh ke tangan Muslimin, dan juga penduduk Persia saat itu juga banyak yang mengelu-elukan ajaran Islam.

Saat itu Sayyidina Umar bin Khattab melaksanakan musyawarah besar bagaimana menghadapi pasukan Persia ini?

Karena saat itu Khalid telah meninggal dunia, maka Sayyidina Umar ingin berangkat memimpin kaum Muslimin untuk menghadapi pasukan Persia. Namun dilarang oleh kaum Muslimin dan menahan Umar agar tetap di Madinah. Karena tidak ingin Umar terluka hingga (naudzubillah jika terjadi sesuatu) membuat kaum Muslimin seperti ayam kehilangan induknya.

Lalu Abdurrahman bin Auf mengusulkan Sa’ad bin Abi Waqash. Ia dinilai sebagai singa yang belum menunjukkan taring dan juga cakarnya sebagai panglima perang.

Saat itu dipanggillah Saad bin Abi Waqash yang diingat oleh Umar bahwa saat itu Rasulullah sangat membanggakan Sa’ad dengan berkata, “inilah Pamanku.”

Sayyidina Umar berkata : “Wahai Sa’ad janganlah kamu tertipu dengan kebanggaan Rasulullah sebagai pamannya Rasulullah.”

Sesungguhnya kita telah dimuliakan dengan Islam, maka siapa yang mencari kemuliaan di luar Islam maka ia pasti akan dihinakan oleh Allah. Sesungguhnya yang aku khawatirkan bukanlah kekuatan musuh, tapi maksiat kalian kepada Allah sebagai orang yang beriman.

Karena kalau musuh itu kafir dan kita mukmin tapi bermaksiat, maka di hadapan Allah semua sama saja. Tinggal hitung-hitungan pasukan saja, mana yang lebih banyak. Oleh karena itu kekuatan kita adalah ketaqwaan kita pada Allah agar pertolongan Allah itu datang.

Sementara di keluarga Khansa tidak ada anak laki-lakinya yang ingin berdiam diri di rumah. Semua ingin berangkat berjihad.

Mereka berdebat sengit siapa yang harus tinggal di rumah untuk menjaga Ibunya dan siapa yang berjihad fi sabilillah. Lalu Khansa berkata pada anak-anaknya :

Wahai anak-anakku sesungguhnya Ibu kalian ini ada yang menjaga, dan penjagaannya lebih kuat daripada kalian semua, yaitu Allah. Maka berangkatlah kalian semua itu berjihad fi sabilillah, janganlah ragu meninggalkan Ibu. Berangkatlah kalian semua karena Ibu merestui kalian semua.

Khansa memberikan taujih dari firman Allah dalam Quran :

Wahai anak-anakku bersabarlah kalian, dan kuatkan selalu kesabaran kalian, berjagalah di perbatasan negeri kalian, berjihadlah supaya Allah memberikan kalian kemenangan yang nyata.

Karena kekuatan dari Ibu inilah kemudian mereka dengan semangat berangkat untuk ikut perang Qadisiyah ini. Saat itu pasukan Islam hanya berjumlah 30.000 orang, dan sungguh perang yang berlangsung saat itu sangatlah berat.

Dua hari pertama perang Qadisiyah ini membuat banyak pasukan Islam syahid saking dahsyatnya pasukan Gajah yang dikirim oleh pasukan Persia. Hingga salah satu prajurit Islam menemukan cara untuk menggagalkan serangan Persia, yakni dengan memanah mata-mata Gajah mereka hingga prajurit Persia kocar-kacir.

Dua hari pertama perang Qadisiyah ini membuat seluruh empat putra Khansa syahid di jalan Allah.

Ketika Khansa tahu bahwa empat putranya syahid dalam peperangan, sebagai ibu yang beriman, ia keluar dari rumahnya dan membawa manisan dan makanan serta kue-kue sambil berkata:

Segala puji bagi Allah yang memuliakan aku dengan mensyahidkan putra-putraku.

Khansa dengan penuh keridhaan kepada Allah bersedekah dan berbagi makanan pada tetangga-tetangganya sebagai wujud rasa syukur beliau pada Allah. Sejak saat itu Khansa diberi gelar Ummul Syuhada’ yakni Ibunya orang-orang yang syahid.

Gambaran Khansa ini persis seperti yang digambarkan oleh Rasulullah : “Siapa yang kehilangan tiga orang putra, maka syahid baginya.”

Sedangkan Khansa kehilangan empat putra dan dia ridha dengan takdir Allah.

Masya Allah begitu besar keimanan dan keridhaan Al Khansa atas titipan Allah padanya. Semoga kita semua bisa meneladani Ummul Syuhada Al Khansa. Aamiin.

Baca juga kisah Perempuan Peradaban lainnya di sini ya!

Leave a Comment

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)