Kisah Asma Binti Abu Bakar, Sang Pembelah Sabuk

Perempuan Peradaban episode 7 yang disampaikan oleh Ustadz Salim A Fillah kali ini mengangkat kisah tentang Ibunda Asma binti Abu Bakar. Yuk simak!

Kisah Asma binti Abu Bakar

Asma adalah perempuan istimewa karena berasal dari keluarga dengan empat generasi yang semuanya adalah sahabat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Kakek beliau (Abu Kuhafah), Ayahnya (Abu Bakar), Asma sendiri dan juga anaknya, merupakan sahabat Rasulullah.

Kisah kepahlawanan Asma dimulai sejak beliau sangat belia. Saat itu Rasulullah berhijrah dengan Ayahnya, dan Asma sudah dikenal dengan Datunniqatain (perempuan yang membelah dua sabuknya) karena beliau ditugas Ayahnya untuk mengantarkan ransum makanan untuk Ayah dan Rasulullah di Gua Tsur saat itu.

Saat itu Asma sudah menikah dengan Zubair bin Awwam (salah satu Assabiqunal Awwalun juga). Ketika menikah dengan Zubair pada saat itu dan harus mengantar bekal ke atas Jabal Tsur kondisinya tengah hamil. Beliau sebenarnya mengkhawatirkan kandungannya.

Sehingga sabuk yang semula dia pakai untuk mengikat perutnya agar kandungannya tetap stabil dan aman, ia sobek sabuknya tersebut menjadi dua. Lalu setengah sabuknya untuk mengikat bekal di punggungnya supaya bisa mendaki dengan kedua tangannya sehingga bisa naik ke atas Jabal Tsur.

Ketika Abu Bakar dan Rasulullah menuju Yatsrib, Asma juga berperan besar dalam hal ini. Ketika itu kakeknya bertanya; “kemana Ayahmu?”

Asma tetap merahasiakan kepergian Abu Bakar dan tahu apa yang dimaksud kakeknya. Saat itu Asma meyakinkan kakeknya bahwa Ayahnya telah meninggalkan harta benda untuknya dan juga keluarganya dengan jumlah yang cukup, sehingga kakeknya tak perlu khawatir. Meskipun sebenarnya Abu Bakar saat itu membawa semua emas dan dirhamnya bersama Rasulullah.

Namun dengan keimanan dan juga keyakinan pada Ayahnya, Asma menutupi apa yang terjadi agar rencana yang dijalankan oleh Ayahnya bersama dengan Rasulullah berjalan dengan lancar tanpa harus mendapatkan perlawanan dari keluarganya (karena meninggalkan keluarga tanpa perbekalan apa-apa).

Inilah didikan Abu Bakar yang luar biasa pada putrinya. Sehingga apa yang dilakukan Ayahnya disupport sepenuhnya, dia percaya meskipun tidak ditinggali apapun di rumah. Asma tetap bisa menghibur Kakeknya dan meyakinkan keluarganya semuanya akan baik-baik saja meskipun ditinggal oleh Abu Bakar.

Hebatnya Asma sebagai seorang putri dalam menjaga marwah Ayahnya di depan kakeknya dan juga keluarganya.

Kesetiaan Asma binti Abu Bakar Pasca Perceraian dengan Zubair bin Awwam

kisah Ibunda Asma binti Abu Bakar

Asma juga menyusul hijrah ke Madinah. Saat itu pula Yahudi menyebarkan propaganda bahwa mereka telah menyihir bahwa semua orang Mekkah yang masuk ke Madinah akan mandul. Yang hamil akan keguguran dan yang melahirkan anaknya akan mati.

Asma tiba di Madinah dan tiga hari kemudian beliau melahirkan anak yang sehat, diberi nama oleh Abdullah bin Zubair. Kelahirannya sangat istimewa, bayinya kuat, tangisannya kencang, dan sangat sehat. Hal ini mematahkan propaganda Yahudi saat itu.

Di Madinah sendiri Asma menjadi istri dari pejuang besar, yang dijuluki khawari Rasulillah yang berarti pengikut yang setia. Setiap Rasulullah bepergian, hampir selalu Zubair bin Al Awwam selalu mendampingi, jadi bodyguardnya Nabi dan selalu mengamankan Rasulullah dari bahaya.

Zubair ini ternyata adalah sepupu Rasulullah dari bibi beliau, Shafiyah binti Abdul Muthalib. Kelemahannya adalah orang yang temperamental dan sangat keras. Namun Rasulullah sangat dekat dengan keluarga beliau.

Suatu ketika Hasan dan Husain kecil, Ibnu Abbas, beberapa generasi kedua sahabat lainnya termasuk Abdullah bin Zubair ini dikumpulkan dan bermain dengan Rasulullah.

“Ayo siapa yang bisa menangkapku akan kuberi hadiah,” kata Rasulullah kemudian beliau berlari dan diikuti oleh anak-anak. Jika Hasan dan Husain bergelantungan di kedua lengan Rasulullah, lalu Ibnu Abbas nemplok di dada Rasulullah, si Abdullah bin Zubair loncat dan langsung memegangi kepala Rasulullah.

Sedekat itulah Rasulullah dengan Abdullah bin Zubair.

Sampai kemudian Abdullah punya adik; Mus’ab dan juga Urwah (yang tidak sempat menjumpai Rasulullah karena jeda kelahirannya agak jauh dengan sang Kakak, Abdullah).

Qadarullah pernikahan Asma dan Zubair ini tidak berjalan baik-baik saja, karena sifat Zubair yang keras dan temperamental. Sehingga ketika Zubair kasar terhadap Ibunda Asma, Abdullah menegur Ayahnya agar Zubair tidak melakukan kekerasan pada Ibunya.

“Demi Allah kalau kamu masuk ke dalam rumah, Ibumu ini tercerai dariku.” begitulah kata Zubair bersumpah.

“Apa yang menghalangiku untuk melindungi Ibuku dari perkara ini?” Lalu Abdullah masuk dan akhirnya Ibunya bercerai dengan Zubair setelah 23 tahun pernikahan.

Salah satu kisah terkenal dari Asma ini adalah tentang kalungnya yang dipinjam Ibunda Aisyah. Saat itu Aisyah memenangkan undian untuk bisa ikut bersama Rasulullah ke medan perang. Lalu kalung yang dipakai Aisyah tertinggal di toilet yang letaknya cukup jauh dari perkemahan. Dari sinilah awal mula Hadisul Ifki.

Saat itu Aisyah mencari-cari kalungnya hingga tanpa sadar waktu telah berjalan sangat lama. Saat Aisyah kembali, tenda sudah dibongkar, lalu Aisyah menunggu di situ. Lalu ada Shaffaq bagian peronda di bagian belakang yang menemukan Ibu Aisyah. Karena baru ditemukan pagi hari, ada celah orang-orang munafik untuk memfitnah Ibunda Aisyah saat itu, semua karena kalungnya Asma.

Sebenarnya Asma sendiri adalah kakak dari Aisyah. Asma adalah anak dari istri pertama Abu Bakar, dan Aisyah anak dari istri kedua Abu Bakar yang semuanya adalah keluarga istimewa yang mendukung perjuangan Rasulullah.

Setelah Asma bercerai dengan Zubair, ia tidak mau menikah lagi dengan lainnya. Lalu ada satu kalimat dari Rasulullah karena ia pernah mengadu pada Ayahnya,

“Sabarlah wahai putriku, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah pernah bersabda, seorang wanita salihah yang menjadi istri dari lelaki yang salih, kalau bersabar terhadap suaminya. Dan ketika suaminya meninggal tidak menikah dengan laki-laki lain, maka ia akan menjadi perempuan yang mulia di surga.”

Sabda Rasulullah itulah yang membuat Asma tidak mau menikah lagi. Meskipun diceraikan di dunia, Asma berharap ia akan menjadi istri Zubair di surga.

Anak-Anak Asma binti Abu Bakar yang Menjadi Kesayangan Ibunda Aisyah

Ketiga putra Asma adalah pejuang Islam yang sangat diperhitungkan. Termasuk Abdullah bin Zubair dan juga Urwah bin Zubair yang menjadi anak kesayangan Ibunda Aisyah. Hingga Ibunda Aisyah menjadikan Abdullah sebagai nama kunyahnya, “Ummu Abdullah”.

Aisyah sangat menyayangi putra-putra Asma, apalagi setelah Zubair gugur dan syahid.

Asma adalah perempuan peradaban yang mulia yang mendidik putra-putranya menjadi pengkhidmah ummat.

Abdullah ingin mengabdi pada umat melalui ambisinya untuk menjadi khalifah karena dengan itu ia ingin mempermudah umat Islam pergi haji dan umroh.

Begitu juga dengan Mus’ab yang ingin menaklukkan Irak karena dengan itu semua, ia bisa memenuhi kesejahteraan ummat Muslim seluruhnya karena tanahnya yang subur dan penuh berkah.

Adapun Urwah ingin menjadi pilar keilmuan umat Muslim, mengabdikan dirinya untuk mengajar ilmu agama.

Keteguhan dan Keberanian Asma binti Abu Bakar Menghadapi Pemimpin yang Zalim

Hingga di akhir hayat Ibunda Asma yang berusia sekitar 100 tahun beliau tetap menjadi perempuan yang teguh pendirian, kuat dan tak takut apapun yang mengancam nyawanya.

Suatu ketika, saat Abdul Malik bin Marwan berkuasa menjadi khalifah, datanglah Al Hajjaj bin Yusuf yang punya dendam terhadap Abdullah bin Zubair. Mengapa dendam? Karena suatu ketika Al Hajjaj bin Yusuf mengajukan sebuah proyek pada Abdullah bin Zubair di Hijaz. Namun Abdullah bin Zubair menolaknya.

Akhirnya saat masa kepemimpinan Abdul Malik bin Marwan dan juga Abdullah bin Zubair (masa-masa terpecahnya umat Muslim sehingga ada dua khalifah), Al Hajjaj bin Yusuf mengatakan pada Abdul Malik agar mempercayakan urusan tentang dualisme kekhalifahan ini padanya.

Yakni dengan cara menghancurkan Abdullah bin Zubair. Pertama-tama Al Hajjaj menghancurkan Irak yang dipimpin oleh adik Abdullah bin Zubair, yakni Mus’ab bin Zubair, beliau syahid di jalan Allah. Lalu setelah itu Al Hajjaj merangsek masuk ke Mekkah dan menghancurkan Ka’bah menggunakan manjanik. Saat itu Abdullah bin Zubair masih bertahan hingga menemui Ibunda Asma untuk memintanya nasihat.

“Apa yang harus kulakukan Ibu?”

Asma berkata pada Abdullah bin Zubair :

“Apakah kau yakin berada di atas kebenaran wahai anakku? Apakah kau yakin yang kau perangi adalah yang bathil?”

Kemudian dijawab oleh Zubair, “Iya Ibu… aku yakin.”

Kemudian Asma memeluk Abdullah bin Zubair dan juga memberikan semangat serta nasihat.

“Bertakwalah kepada Allah Nak. Ambillah jalan perjuanganmu itu sebagai jalan untuk berjumpa Rasulullah dan para sahabatnya di surga.”

Lalu Abdullah minta didoakan, dan Ibunda Asma memeluk Abdullah bin Zubair.

“Ini apa Nak? Berat sekali yang kamu pakai?”

“Ini baju besi Bu, untukku bertahan dalam peperangan ini.”

“Baju besi ini tidak akan bermanfaat untukmu ketika ajal datang Nak. Menurut Ibu, lepaskanlah baju besi ini, dan sebagai gantinya pakailah celana rangkap Nak. Supaya ketika engkau syahid nanti, auratmu tidak terbuka.”

Saat itu kondisi memang sudah sangat genting. Karena sebenarnya ada 200 pemanah jitu di sisi Abdullah bin Zubair. Namun karena mereka saat berjaga-jaga membicarakan keburukan Sayyidina Ustman bin Affan, Abdullah bin Zubair sangat marah.

“Sesungguhnya aku tidak membutuhkan orang-orang yang menyakiti Ustman bin Affan, kekasih Rasulullah. Pergi kalian semua dari sini.”

Jadi pasukan elit Habasyah justru diusir pergi oleh Abdullah bin Zubair karena menyakiti Sayyidina Ustman bin Affan. Begitu eratnya persahabatan dan ikatan mereka di dunia, hingga Zubair rela melepas pasukan elitnya pergi demi menjaga nama sahabat Rasulullah.

Akhirnya pasukan Al Hajjaj dengan leluasa bisa merangsek masuk dan saat itulah Abdullah bin Zubair syahid. Kepalanya dipenggal, jasadnya digantung di Masjidil Haram, dan kepalanya dibawa ke Damaskus.

Jasad beliau konon digantung selama tiga bulan di Masjidil Haram, dan selama itu pula jasad tersebut menjadi parfumnya Masjidil Haram yang sangat harum wanginya. Semerbak harumnya menyebar ke seluruh penjuru Masjidil Haram.

Sampai akhirnya Al Hajjaj diberi nasihat, “kalau tidak kamu turunkan segera jasad ini, orang-orang akan tahu siapa yang berada di jalan yang benar, dan siapa yang bathil.” Lalu buru-burulah Al Hajjah menurunkan jasad Abdullan bin Zubair.

Setelah membunuh Abdullah bin Zubair ini, Al Hajjaj mendatangi Asma dan mengatakan,

“Bu, aku tahu engkau adalah perempuan yang mulia, maka restuilah aku Bu.”

“Aku bukan Ibumu dan engkau bukan anakku. Yang kurestui adalah orang yang kau bunuh.”

“Ya tapi aku menghancurkan dia Bu..”

“Ya kau memang menghancurkan dunianya, tapi dia menghancurkan akhiratmu.”

Asma mendebat Al Hajjaj dengan sangat berani tanpa rasa takut sedikit pun, sampai akhirnya beliau berkata :

“Aku telah mendengar Rasulullah bersabda : dari Tsaqif akan muncul seorang pendusta dan seorang durjana. Adapun pendustanya seluruh dunia tahu, ia adalah Musaylamah Al Kadzab. Adapun durjananya, aku sungguh yakin bahwa itu adalah engkau wahai Al Hajjaj bin Yusuf As Sakofi.”

Itulah keberanian yang luar biasa Ibunda Asma di usianya yang senja, lebih dari 100 tahun ketika menghadapi pemimpin yang zalim dan durjana seperti Al Hajjaj.

Semoga kisah Asma binti Abu Bakar, Perempuan peradaban mulia yang mendidik anak-anaknya menjadi pengkhidmat ummat ini dapat menginspirasi kita semua.

Ikuti kisah Perempuan Peradaban lainnya di sini yuk!

Leave a Comment

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)