Ketika Anak Sedang Marah, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Ketika anak sedang marah, seringkali kita kehilangan kendali juga karena teriaka-teriakannya sukses mendorong kita untuk bersikap sama. Saya sering sekali mengalami ini.

Ketika Anak Sedang Marah

Suatu ketika saya menjemput Isya dari sekolah. Hari itu ia membuat topeng karakter bersama dengan guru dan teman-temannya. Setelah puas bermain sepulang sekolah, saya mengajaknya pulang karena hari sudah sangat siang dan saya harus menyiapkan makan siangnya kan.

Isya semula bersikap kooperatif, ia mau memahami ibunya yang harus segera pulang dan memasak makan siang untuknya dan Bapaknya. Namun tiba-tiba ia mengajukan syarat pada saya:

Buk tapi Isya pulang pakai topeng ini yaa..

Saya pun menyetujui syaratnya. Namun ternyata topengnya itu tidak bisa dipasangkan ke wajahnya karena ada karet yang terlepas. Selain itu, susah untuk memasangnya karena saya perlu melubangi bagian pinggir topeng dan mencari karet lagi.

Namun sepertinya Isya tidak mau tahu dengan semua kondisi tersebut. Biasanya saya akan memarahinya karena tidak mau bekerjasama. Namun melihat wajah kusutnya yang sudah jelas jengkel juga dengan kondisi topengnya yang tidak bisa dipasang itu, saya urungkan kemarahan itu.

Kali ini saya mengingat bahwa saya bisa mewujudkan keinginannya dalam fantasi sebagaimana sikap Ibu dalam Buku Seni Berbicara Pada Anak karya Johanna Faber dan Julie King. Saya berkata,

Duh ngeselin banget ya Kak? Ibuk juga pinginnya gitu, pengen ada tombol di sini nih (sambil menunjuk bagian pinggir topeng). Dan kapanpun Ibuk memencet tombol itu, topengnya berubah jadi bagus dan bisa dipakai lagi

Isya mulai memperhatikan kata-kata saya, ia juga mulai tertarik dengan cerita fantasi dari saya. Ia mulai berpikir dan mau bernegosiasi, bahkan ia berkata,

Buk tombolnya bisa bikin berubah warna juga?

Saya mengangguk. Pada titik ini Isya sudah betul-betul masuk ke cerita saya, dan air mukanya berubah jadi bahagia. Ia tidak jadi marah atau mengambek, dan ini sungguh luar biasa, jika teman-teman mengenal seperti apa anak saya, hehe..

Jadi poin yang sangat penting di sini adalah:

Tahan keinginan untuk menanyai anak yang sedang merasa jengkel.

Mungkin kita sudah mengamati bahwa kita tidak menanggapi anak yang sedang jengkel dengan pertanyaan: Apa kamu sedih? Apa itu membuatmu marah? Mengapa kamu menangis?

Bahkan pertanyaan yang diajukan dengan lembut sekalipun masih bisa terdengar sebagai interogasi saat seorang anak sedang jengkel. Ia mungkin tidak tahu alasannya merasa marah.

Ia mungkin tidak bisa mengungkapkan dengan jelas melalui kata-kata. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu kerap kali membuat orang dewasa merasa terancam. Kita merasa ditanyai untuk membenarkan bagaimana kita bisa merasa, sementara penjelasan kita tak bisa mengikuti standar si penanya. (Oh jadi cuma itu? Gara-gara itu doang kamu nangis?) Kurang lebih begitu.

Dengan membuat pernyataan, bukan mengajukan pertanyaan, kita menerima perasaan tanpa meminta pembenaran apa pun. Kita tidak perlu mencari alasan terjadinya perasaan itu untuk berempati. Kita bisa mengatakan,

Kamu tampak sedih, ada sesuatu yang membuatmu kecewa ya?

Atau hal-hal serupa kalimat tersebut. Frasa-frasa semacam itu akan memancing anak untuk bercerita, jika mereka memang mau, atau memberi sedikit kenyamanan saat ia tidak mau bercerita.

Begitulah salah satu cara saya menghadapi anak yang sedang marah. Saya mencoba menyejajarkan diri saya dengannya, dan mencoba untuk mengalihkan perhatiannya pada cerita fantasi yang disukai oleh Isya.

Ketika ia sudah berhasil masuk ke dalam cerita tersebut, akan lebih mudah untuk menenangkan dan memberikan nasihat padanya. Alhamdulillah..

Bagaimana dengan teman-teman? Mau tahu dong bagaimana trik teman-teman ketika menghadapi anak yang sedang marah, yuk bagikan di kolom komentar.

Semoga artikel ini bermanfaat ya!

1 thought on “Ketika Anak Sedang Marah, Apa yang Harus Kita Lakukan?”

Leave a Comment

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)