As Shifa Binti Abdillah dan Rufaidah, Dokter dan Perawat Teladan

Dalam episode 9 Perempuan Peradaban bersama Ustadz Salim A Fillah kali ini kita akan membahas tentang kiprah Asy Syifa binti Abdillah dan Rufaidah. Siapakah mereka? Simak yuk!

Perempuan Peradaban, Sang Ahli di Bidang Kedokteran dan Keperawatan

Ada beberapa nama yang luar biasa dalam sejarah Sahabiah. Yang akan kita bahas dalam episode kali ini adalah dua orang yang sangat ahli di bidang kedokteran dan juga keperawatan.

Nama yang pertama adalah Sayyidah As Shifa binti Abdillah Al-Adawiyah. Beliau berasal dari Adi bin Ka’ab, suku yang sama dengan Sayyidina Umar bin Khattab. Suku ini merupakan suku yang terkenal akan pemahaman mereka akan baca dan tulis. Istilahnya adalah suku yang terkenal dengan kepintarannya, karena mereka memilih untuk ahli di bidang baca dan tulis.

Dulu, membaca dan menulis bagi kaum penyair adalah kecerdasan tingkat kedua. Kalau ada penyair yang melihat pemandangan indah lalu dari mulutnya keluar kata-kata yang indah, itu adalah penyair yang jenius.

Namun jika ada seorang penyair yang sedang mengamati keindahan atau pemandangan alam, lalu menelaahnya terlebih dahulu untuk kemudian dituliskan, dianggapnya ia adalah penyair dengan kecerdasan tingkat dua.

Namun suku Adi bin Ka’ab ini tak gentar dengan tuduhan tersebut. Mereka tetap berprinsip untuk mendidik anak cucu mereka agar bisa membaca dan juga menulis.

Suku ini justru sangat suka membaca dan menulis. Lalu di zaman Quraisy, suku Adi bin Ka’ab ini memang diutus secara khusus sebagai duta-duta di negeri-negeri lain.

Oleh karena itu pada masa itu Rasulullah sempat mengutus Umar bin Khattab untuk menjadi duta atau utusan dakwah pada kaum Quraisy. Namun Umar bin Khattab menjawab;

“Jangan aku wahai Rasulullah, kau mengerti bagaimana kebencianku pada kaum Quraisy dan bagaimana kebencian Quraisy terhadapku. Aku takut jika aku yang menjadi utusanmu, justru akan terjadi pertumpahan darah. Lebih baik kau utus Usman bin Affan, salah satu orang yang disayangi oleh kaum Quraisy.”

As-Shifa masih terhitung sebagai sepupu Sayyidina Umar bin Khattab. As Shifa juga dikenal sebagai muallimah pertama bagi umat Islam, guru pertama bagi umat Islam. As Shifa salah satu guru pertama Muslimah di kalangan para shahabiyyah kala itu yang mengajar baca dan tulis.

Peran As Shifa Binti Abdillah dan Bagaimana Islam Memuliakan Orang yang Berilmu

Sejak turunnya Al Quran, Islam menekankan betapa pentingnya membaca dan menulis itu dengan ayat pertama yang turun yaitu Iqro’, bacalah.

Oleh karena itu saat perang Badar pun, ketika ada tawanan perang, para sahabat memberlakukan aturan bahwa tawanan boleh menebus dirinya agar bisa dilepaskan dengan mengajarkan baca dan tulis pada setiap anak orang-orang Islam.

Hal ini menunjukkan betapa luar biasanya Rasulullah memberikan keistimewaan sekaligus mengumumkan pada sahabat-sahabatnya pentingnya membaca dan menulis.

Salah satu murid utama As Shifa saat itu adalah Sayyidah Hafshah binti Umar yang nantinya menjadi Ummul Mu’minin. Hafsah sampai menguasai berbagai macam ilmu karena belajar bersama As Shifa.

Termasuk As Shifa dan Hafsah menguasai ilmu pengobatan.

Hingga saat itu Rasulullah mengirimkan dua sahaya perempuan pada salah satu Muqawqis di Mesir, salah satu di antaranya Mariah Al Qibtiyah yang nantinya menjadi Ummul Mu’minin dan melahirkan putra bernama Ibrahim bin Muhammad. Antara Rasulullah dan Muqawqis tersebut saling memberi hadiah, dan saat itu Muqawqis mengirim dua orang tabib dari Mesir.

Tabib yang dikirim dari Mesir ini adalah tabib yang menguasai ilmu kedokteran ala Barat, berbasis Yunani (karena kekaisaran Romawi Timur saat itu masih berkiblat pada Yunani). Saat itu pelopor ilmu kedokterannya adalah Hipokrates, meskipun masih tergolong dalam ilmu kedokteran sederhana.

Ilmu kedokterannya juga masih menggunakan beberapa spekulasi. Seperti misalnya membagi cairan tubuh itu ada yang hijau, hitam, kuning, dan juga merah dan menunjukkan bagaimana bagian tubuh tersebut terganggu berdasarkan warnanya.

Sementara dalam ilmu kedokteran Persia, sudah sampai pada pembedahan luka, membersihkan luka dengan khamr, penggunaan opium untuk pembiusan, pemotongan organ, dan ini lebih berkembang dibanding kedokteran Barat.

Maka saat itu muqawqis berpraktik di Madinah dan menyatakan bahwa umatnya Rasulullah di Madinah sangat sehat. Ilmu mereka tidak terpakai di Madinah.

Ummatnya Rasulullah sangat menjaga makanan, menjaga kebersihan, pandai mencegah penyebaran penyakit, dan masih banyak lagi. Sehingga mereka minta izin untuk kembali ke Mesir (beribukota Alexandria, masih campuran Mesir-Yunani).

Menurut mereka, orang Mesir jauh lebih kotor dan banyak penyakit yang timbul, sehingga mereka lebih bermanfaat di sana. Namun Rasulullah mencegahnya dengan berkata :

“Kalau kalian ingin meninggalkan Madinah, setidaknya tinggalkanlah kebaikan di sini.”

Rasulullah Mengutus Perempuan Peradaban Untuk Belajar Ilmu Kedokteran dari Barat

Oleh karena itu mereka diminta untuk mengajarkan tentang ilmu kedokteran pada para sahabat dan shahabiyah. Di antara shahabiyah yang paling intensif belajarnya saat itu adalah As-Shifa binti Abdillah dan Hafshah binti Umar. Keduanya menyerap keilmuan kedokteran barat dari muqawqis tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya Islam tidak anti dengan ilmu dari Barat. Selama ilmu tersebut bermanfaat, maka tak mengapa menimba ilmu tersebut dengan difilter, disaring, lalu dianalisis hingga kita bisa memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah juga mengutus dua pelopor perempuan untuk mendalami ilmu kedokteran dan juga keperawatan. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan juga dipandang mampu dan penting dalam memegang amanah besar tersebut.

Bahkan di masa Khalifah Umar bin Khattab, As Shifa binti Abdillah diangkat menjadi semacam menteri perdagangan meskipun keahliannya saat itu di bidang kedokteran, yang menandakan bahwa As Shifa benar-benar diandalkan oleh Sayyidina Umar yang saat itu wilayah kekuasannya membentang hingga Afghanistan dan Pakistan Timur. Jika dikonversikan sekitar 24-28 negara berada dalam kekuasaan Khalifah Umar bin Khattab.

Umar bin Khattab berpendapat bahwa Shifa adalah seseorang yang berwawasan luas, bagus ketika belajar dalam hal baru. Sehingga Umar bin Khattab tak ragu menitipkan amanah tersebut pada As Shifa, agar pasar-pasar di bawah kekhalifahan beliau tidak ada riba, tidak ada gharar, tidak ada pengurangan takaran atau timbangan dan hal-hal yang dibenci oleh Allah.

As Shifa pun berhasil melaksanakannya dengan baik, sebagaimana kepercayaan Sayyidina Umar bin Khattab.

As Shifa binti Abdillah menjadi sosok perempuan yang sangat terbuka dalam belajar, melek literasi, pembelajar cepat dan selalu siap dengan amanah yang besar.

Adapun seorang pelopor di bidang keperawatan adalah sahabat Rufaidah binti Sa’ad Al Islamiyah.

Pelopor Bidang Keperawatan, Sahabat Rufaidah binti Sa’ad Al Aslamiyah

Beliau adalah perawat pertama dalam sejarah Islam. Adapun ayah Rufaidah saat itu, yang bernama Sa’ad juga berprofesi sebagai tabib sejak masa jahiliyah, dan beliau menguasai ilmu kedokteran timur (ahli-ahli dari Persia). Sa’ad adalah murid dari tabib besar Arab yang bernama Al Harith bin Kaladah yang menjadi dokter juga di negeri Persia.

Salah satu ciri khas kedokteran Timur adalah tentang pembedahan, penggunaan alat-alat logam, terapi dengan logam (kai) untuk menghentikan pendarahan dan juga mematikan sel-sel untuk mencegah racun menyebar lebih jauh.

Terapi dengan kai tersebut juga pernah dilakukan Rufaidah atas perintah Rasulullah pada salah satu sahabat, yakni Sa’ad bin Muad Al Ausi yang terluka saat perang Khandaq. Meskipun Rasulullah menjadikan kai sebagai pilihan terakhir dalam pengobatan. Meskipun kemudian Rasulullah tidak menganjurkan pengobatan dengan cara ini.

Salah satu terapi yang sampai saat ini digunakan karena diperbolehkan oleh Rasulullah adalah hijama atau bekam.

as Shifa binti Abdillah
proses bekam

Rufaidah juga dianggap sebagai pelopor ilmu keperawatan modern karena beliau memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh Ayahnya.

Yang pertama beliau mendirikan klinik, salah satu hal yang dipeloporinya dengan memperhatikan kebersihan (clean = bersih), di mana dulu ayahnya tidak terlalu memperhatikan kebersihan tempat praktiknya.

Rufaidah sangat peduli tentang kebersihan airnya, tempat tidurnya, sanitasi, hingga aliran udaranya.

Yang kedua, jika ayahnya dulu masih mencampur adukkan antara ilmu kedokteran Arab dengan jampi-jampi ala Arab, mantra dan ritual tertentu yang diyakini bisa membantu proses penyembuhan, namun tidak dengan Rufaidah.

Rufaidah menyingkirkan semua itu karena tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah. Rufaidah menggantinya dengan bacaan-bacaan dari Al Quran untuk membantu proses penyembuhan. Salah satu pelopor Rukyah Syar’iyah tentunya juga Rufaidah.

Berikutnya inovasi beliau adalah Rumah Sakit darurat berupa tenda yang bisa dipindah-pindah saat medan perang. Lengkap dengan kebersihan dan sirkulasi udara yang sehat. Sa’ad bin Muadz menjadi salah satu orang yang merasakan rumah sakit darurat milik Rufaidah saat itu.

Sahabat Sa’ad saat itu mengucurkan darah yang sangat deras hingga Rufaidah harus menggali tempat untuk mengalirkan darah Sa’ad ke tempat yang tertutup sehingga tidak akan menyebarkan wabah penyakit.

Sahabat Sa’ad bin Mu’ad adalah pasien legendarisnya Rufaidah, salah satu sahabat yang disayangi Rasulullah, meskipun akhirnya beliau syahid setelah sebulan dalam perawatan Rufaidah.

Inilah Rufaidah yang merintis sistem keperawatan yang sangat baik, dimana saat itu luka parah seperti yang dialami Sa’ad biasanya tidak akan bertahan lama, namun dalam perawatan Rufaidah dan tentunya dengan izin Allah bisa bertahan satu bulan lebih.

Inovasi Rufaidah ini juga menjadi standar di kemudian hari ketika merawat orang-orang yang terluka. Standar perawatan yang digariskan Rufaidah ini kemudian digunakan di negara-negara Islam hingga Baghdad, Damaskus, Pakistan, dan negara-negara lain.

MasyaAllah.. semoga artikel ini bermanfaat dan dapat menginspirasi kita semua.

Baca juga kisah Perempuan Peradaban lainnya di sini yuk!

1 thought on “As Shifa Binti Abdillah dan Rufaidah, Dokter dan Perawat Teladan”

Leave a Comment

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)