Ummu Hani : Penolak Lamaran Dua Kali

Kisah kali ini adalah tentang seorang perempuan mulia bernama Ummu Hani yang pernah menolak lamaran dua kali. Diambil dari rangkaian episode 30 kisah patah hati yang dibawakan oleh Ustadz Salim A Fillah.

Lalu siapakah yang ditolak? Yaitu Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam, di mana perempuan lain pasti tidak akan menolak beliau.

Ummu Hani punya nama yaitu Fakhitah binti Abi Thalib, dia adalah putri dari pamannya Rasulullah, dia adalah kakak dari Sayyidina Ja’far dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Jadi Fakhitah adalah sepupu Rasulullah. Usianya 5 tahun lebih muda dari Rasulullah.

Fakhitah ini seorang perempuang yang tumbuh di keluarga mulia, dididik oleh keluarga yang mulia pula. Dan kebetulan Rasulullah dibesarkan oleh Abu Thalib sejak usianya 8 tahun. Oleh karena itulah Fakhitah dan Rasulullah memang berada dalam satu circle kalau istilah zaman sekarang.

Mereka saling bersimpati, saling menyayangi selayaknya sebagai satu keluarga. Namun, sebagai laki-laki dan perempuan tumbuh perasaan mencintai dalam dirinya.

Saat itu Rasulullah belum diangkat menjadi Nabi dan usianya sekitar 25 tahun. Beliau melamar Fakhitah kepada Abu Thalib. Namun ternyata lamaran itu ditolak oleh Abu Thalib dan dikatakan bahwa Fakhitah sudah dilamar oleh laki-laki dari Bani Mahzum, namanya Ubairah bin Abi Wahab.

Apa sebenarnya alasan Abu Thalib memenangkan lamaran laki-laki dari Bani Mahzum dibandingkan lamaran dari keponakannya sendiri ini? Rasulullah saat itu mempertanyakan. Lalu Abu Thalib pun mengatakan :

“Wahai Muhammad ketahuilah, Bani Mahzum baru saja menikahkan salah satu di antara putri mereka dengan laki-laki dari Bani Hasyim. Menjadi tradisi adat kita sesudah yang seperti itu kalau mereka melamar putri-putri kita menerimanya.”

Jadi menolak lamaran mereka secara adat atau tradisi tidaklah patut. Jadi dalam hal ini Fakhitah dan Rasulullah saat itu terpisah karena adat yang dihormati oleh keluarga mereka. Ini adalah seperti cinta pertama Rasulullah yang patah, karena tidak bisa berakhir ke pelaminan sebelum akhirnya Nabi menikah dengan Ibunda Khadijah.

Sedangkan Fakhitah akhirnya menikah dan dikaruniai dua orang anak. Anak pertamanya bernama Hani, oleh karena itulah ia dipanggil Ummu Hani.

Setelah Khadijah wafat, Rasulullah dengan penghormatan beliau kepada keluarganya, salah satu yang menopang dakwah Rasulullah adalah keluarga Ummu Hani. Keluarga Ummu Hani ini rumahnya menjadi saksi pertama dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Jadi saat itu, saat Rasulullah diberangkatkan dalam peristiwa Isra’ wal Mi’raj dari rumah Ummu Hani. Begitu pula saat Rasulullah dikembalikan, beliau berada di rumah Ummu Hani dan saat itu Ummu Hani belum masuk Islam.

Sehingga saat itu Ummu Hani berkata, “Demi Allah jika kau ceritakan itu di hadapan orang-orang Quraisy, pasti mereka akan menertawakanmu.”

Ummu Hani semata-mata melindungi Rasulullah sebagai keluarga.

Kemudian berlalulah masa yang panjang. Kemudian Rasulullah menikahi Ibunda Aisyah dan istri-istri beliau yang lainnya, tinggal di Madinah dan mereka pun berpisah.

Ketika terjadi Fathu Makkah, ternyata suami Ummu Hani ini melarikan diri ke Najran karena ketakutan. Ummu Hani ditinggal bersama anak-anaknya yang masih kecil. Dan saat tiba di Makkah, Rasulullah melaksanakan salat 8 rakaat di rumah Ummu Hani. Inilah yang menjadi dalil tentang salat Dhuha 8 rakaat di pagi hari. Saat itu Ummu Hani juga masuk Islam.

Dan diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Abi Laila, “tidak ada yang meriwayatkan kepadaku tentang salat Dhuha kecuali Ummu Hani.” Meskipun beberapa ulama mengatakan bahwa itu bukan salat Dhuha, tapi salat syukur Rasulullah atas Fathu Makkah.

Lalu diceritakan pada suatu hari kata Ummu Hani, “aku kembali ke rumahku dan beliau sedang mandi dengan diselubungkan kain oleh Fatimah, putri beliau.”

Setelahnya Ummu Hani memohonkan perlindungan untuk seorang kerabatnya, namanya Ibnu Hubairah.

Maka Rasulullah bersabda, “Kami melindungi siapapun yang engkau lindungi, wahai Ummu Hani.”

Ini adalah bentuk penghormatan Rasulullah kepada Ummu Hani.

Ketika terdengar kabar bahwa suami Ummu Hani tidak mungkin kembali lagi, maka Rasulullah pun melamar Ummu Hani untuk kedua kalinya. Lalu Ummu Hani menjawab :

“Dulu ketika belum turun wahyu, engkau mencintaiku dan aku pun mencintaimu. Tapi aku dinikahkan dengan seseorang dari kabilah lain sesuai tradisi kita. Adapun sekarang engkau melamarku lagi, sesungguhnya aku memiliki hal yang mengganjal dalam hati, yaitu anak-anakku. Dan aku sudah tua. Aku khawatir kalau aku mengurusi anak-anakku, aku menelantarkan suamiku, dan kalau aku mengurusi suamiku aku takut akan menelantarkan anak-anakku.”

Jawaban ini begitu mendalam. Dan kisah ini juga menjadi salah satu khasanah dalam Sirah kaum muslimin bahwa dari semua wanita yang merasa pasti sangat beruntung jika Rasulullah melamarnya, ada seorang wanita yang tidak kalah mulia, tapi ternyata takdir harus menjadikannya dua kali menolak lamaran Rasulullah.

Sejarah mencatat, usia beliau sangat panjang karena Ummu Hani baru wafat saat masa Muawiyah bin Abu Sofyan, yakni sekitar 90tahunan.

Ikuti juga kisah patah hati lainnya di sini yuk!

 

Leave a Comment

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)