Episode kali ini dari serangkaian 30 Kisah Patah Hati, Ustadz Salim A Fillah membahas tentang sosok perempuan yang patah hati sampai-sampai ia mampu berbuat keji. Mengunyah-ngunyah organ tubuh manusia dengan sangat bengis.
Bermula dari sebuah keluarga tokoh Quraisy yang bernama Utbah bin Rabiah dan ia punya anak yang bernama Walid bin Utbah dan Hindun binti Utbah. Hindun ini menikah dengan Abu Sufyan bin Harb yang juga merupakan tokoh Quraisy ternama dari Bani Umayyah.
Utbah bin Rabiah ini punya cerita menarik. Dia adalah orangtua yang bijaksana dan sangat dihormati di kalangan kafir Quraisy. Sehingga pada tahun ke-10/11 keNabian, ia dipilih oleh orang-orang Quraisy untuk menekan Rasulullah atau paling tidak menghentikan dakwahnya (karena dianggap mencela sesembahan dan menghina nenek moyang mereka).
Di lain sisi, persatuan di tubuh keluarga besar kafir Quraisy juga harus dijaga, sehingga kadang kala mereka juga tidak tega pada Rasulullah. Utbah lah yang dipilih untuk menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Ia menemui Rasulullah dalam kondisi emosi.
Hebatnya Rasulullah tidak memberi reaksi negatif. Beliau hanya duduk, diam, dan mendengarkan. Sesekali beliau tersenyum. Beliau tidak membalas sama sekali caci maki yang dilontarkan oleh Utbah.
Rasulullah hanya berkata, sambil menyapa Utbah dengan panggilan kehormatan :
“Wahai Abdul Walid, sebagaimana engkau berbicara, maka aku telah mendengarkan. Apakah kau sudah selesai sekarang?”
“Ya, aku sudah selesai.”
“Kalau begitu sebagaimana tadi aku mendengarkanmu bicara, maukah engkau mendengarkan aku berbicara. Kalau baik menurutmu, silakan ambil, kalau tidak kau bisa membuangnya, tidak masalah.”
Utbah pun menganggap itu semua fair, dan ia pun duduk mendengarkan.
Saat itu Rasulullah hanya membaca Al-Quran. Ada yang mengatakan beliau membaca surat At-Tur, ada juga yang mengatakan bahwa beliau membaca surat Thoha, dan beberapa surat lain.
Ketika Utbah mendengarkannya, ia terkesiap karena selama ini ia belum pernah mendengarkan Rasulullah membacakan AlQuran. Ia hanya terus menerus benci buta pada Rasulullah. Utbah seperti tersihir saat itu. Ia bangkit berdiri dan tidak berkata-kata lagi.
Utbah berkata :
“Ini bukan kata-kata manusia. Bawahnya berakar sangat kokoh dan atasnya memberikan buah yang sangat manis. Tidak mungkin Muhammad mengarang ini semua. Ini pasti benar-benar datang dari Tuhan.”
Kembalilah Utbah ke tengah-tengah orang kafir Quraisy. Abu Jahal juga melihat semua itu, lalu berkata :
“Tidakkah kalian melihat Utbah pulang dengan wajah yang berbeda dengan ketika ia pergi. Dia pasti sudah terkena sihir.”
“Dengarkan aku dulu wahai kaum Quraisy. Menurutku, perkara Muhammad ini adalah perkara besar. Jadi menurutku kita diamkan terlebih dahulu. Jika nanti Muhammad memang dimenangkan dalam urusan ini oleh Tuhannya, maka kemenangan dan kejayaan Muhammad juga menjadi kejayaan kita semua, sebagai sesama Quraisy. Tapi kalau memang Muhammad harus binasa, maka jangan kotori kita dengan darahnya. Jangan kita kotori persaudaraan kita dengan Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Ini sikap terbaik.” kata Utbah.
“Benar kan? Dia sudah tersihir!” Teriak Abu Jahal.
“Tidak! Aku tidak tersihir, aku adalah orang berakal. Perhatikan aku, suatu saat kalian akan membenarkan jawabanku ini.”
Maka setelah itu Utbah tidak pernah lagi ikut-ikut dalam urusan “mengganggu dakwah” Rasulullah. Utbah yang merupakan Ayah dari Hindun, menarik dirinya dari segala urusan yang berkaitan dengan Muhammad.
Bahkan saat Rasulullah diusir dari Thaif, di kebun milik Utbah dan adiknya Syaibah bin Rabiah, Rasulullah berlindung di sana dan dipersilakan oleh Utbah. Bahkan Utbah mengutus budaknya untuk membelikan Rasulullah anggur.
Sebab Hindun Patah Hati dan Menyimpan Dendam

Ketika perang Badar terjadi, Utbah sudah tidak mau berangkat. Tapi karena Utbah menolak berangkat, Abu Jahal mengiriminya baju pengantin perempuan untuk menghina Utbah dan memprovokasinya bahwa memang sepantasnya Utbah mengenakan baju seperti ini, bukan zirah perang maupun baju besi.
Utbah pun marah dan ia mengenakan baju zirahnya lalu berangkat untuk berperang.
Yang pertama ditantang untuk duel adalah Utbah, lalu adiknya Syaibah, lalu putranya, Walid bin Utbah melawan Hamzah, Ali dan Ubaidillah bin Harist bin Abdul Muthallib. Mereka pun selesai di menit pertama karena lawannya memang sangat kuat. Itu adalah darah pertama yang tertumpah dari sisi kafir Quraisy. Ketiganya tewas. Padahal, Utbah dulunya netral namun di sisa hidupnya ia justru ikut memerangi Rasulullah.
Itulah yang membuat Hindun patah. Ayahnya yang tidak memusuhi Muhammad, bahkan menolong Muhammad saat ia diusir dari Thaif, tapi kenapa tega sekali menghabisi nyawa Ayah dan juga keluarganya?
Maka Hindun pun dendam dan menyimpan dendamnya itu secara spesifik yang diarahkan pada Hamzah.
Ada peristiwa menarik di dalam perang Badar itu sendiri. Meskipun sekecewa itu Hindun pada kaum Muslim di perang Badar, saat itu ada Abul ‘Ash (menantu Rasulullah/suaminya Zainab) yang tertangkap dan kemudian menjadi tawanan perang kaum Muslimin.
Para tawanan tersebut punya beberapa pilihan agar bisa bebas : yaitu dengan harta, mengajarkan baca tulis atau lainnya. Abul Ash ini meminta izin untuk bisa dikirimkan kalung milik Zainab yang mana itu adalah hadiah pernikahan dari Khadijah, istri Rasulullah.
Ketika Abul Ash minta menebus dirinya dengan kalung itu, Rasulullah luluh hatinya, dan Rasulullah pun meminta izin pada sahabat agar membebaskan Abul Ash. Rasulullah juga mengajukan syarat yaitu agar Zainab diizinkan untuk datang ke Madinah. Para sahabat pun juga setuju.
Lalu ketika Zainab akan ke Madinah dan dihadang oleh Al Habar bin Al Aswad, yang merupakan salah satu orang kafir Quraisy yang saat itu sempat mundur dari perang Badar dan sempat menyaksikan kekalahan yang pahit itu. Karena ia masih kesal atas kekalahan itu, ia pun mengganggu Zainab hingga Zainab terjatuh dan keguguran (saat keluar kota Mekkah, Zainab dalam kondisi hamil).
Hindun melihat peristiwa tersebut dan ia marah pada Habar bin Aswad, “apakah dalam keadaan damai, kalian seperti kuda liar yang keras dan beringas? Tapi saat peperangan kalian seperti perempuan yang sedang haid, tidak berguna dan penakut!”
Hindun masih punya empati kepada sesama perempuan, meskipun itu adalah anak dari musuhnya.
Namun kebencian Hindun masih terus membara. Bahkan ketika suaminya pulang dengan kondisi selamat bersama khalifahnya, ia tak mau disentuh sebelum ia membalaskan dendamnya atas kematian Ayah dan saudara-saudaranya.
Saat itu pula mereka membentuk 3000 pasukan untuk menyusulkan serangan dalam perang balasan.
Hindun juga berpesan pada Wahsyi, jika ia bisa membunuh Hamzah maka ia dibebaskan dari label budak. Maka Wahsyi pun hanya mengincar Hamzah dalam perang tersebut. Ia tidak mau ikut perang kecuali hanya membunuh Hamzah. Ia pun mengambil posisi pojok untuk melempar lembingnya tepat pada Hamzah.
Ia tahu bahwa itu adalah Hamzah karena ciri-cirinya Hamzah menggunakan hiasan burung unta di dadanya yang merupakan ciri khasnya. Lemparan Wahsyi tepat mengenai punggung Hamzah hingga menembus dadanya.
Ketika Hamzah ditarik ke pinggir, ternyata Hindun belum puas dengan apa yang terjadi pada Hamzah. Dendamnya masih juga belum terpuaskan. Akhirnya ia menyuruh Wahsyi untuk membelah dadanya Hamzah, lalu Hindun mengeluarkan jantung Hamzah dan mengunyahnya. Itulah yang dilakukan oleh Hindun karena dendam dan patah hatinya yang luar biasa.
Titik Balik dan Pertaubatan Hindun
Saat Fathul Makkah, akhirnya membuat Hindun menyadari bahwa Ayahnya dulu benar. Bahwa Rasulullah berdiri di atas kebenaran. Akhirnya ia pun masuk Islam dan berbaiat menyatakan kesetiaannya pada Rasulullah.
Akhirnya Hindun menemukan damai dalam Islam. Salah satu anaknya, yaitu Muawiyah bin Abu Sofyan, menjadi salah satu khalifah.
Semoga kisah ini bermanfaat dan jangan lupa baca juga kisah-kisah teladan lainnya di sini yuk!