Ramadan Syahrul Quran Oleh Ustadz Ibrohim Fadlanul Haq

Alhamdulillah, pada Sabtu 10 Februari 2024 ini saya dimudahkan lagi oleh Allah untuk mengikuti Tarhib Ramadan materi kedua yang diadakan oleh Ihyaul Quran Indonesia. Bersama Ustadz Ibrohim Fadlahnul Haq atau yang akrab dipanggil ustadz Boim, kami menimba ilmu tentang Ramadan Syahrul Quran.

“Sesungguhnya nikmat hidup itu saja tidak cukup, karena nikmat terbesar dalam hidup itu adalah nikmat Islam yang diberikan oleh Allah pada kita, hidayah yang diberikan oleh Allah pada kita. Hidayah ini lebih mahal dari dunia dan seisinya, ” ujar Ustadz Boim sebelum membuka materi pada siang hari ini.

Berapa banyak orang yang hidup mulia di dunia namun sejatinya sengsara, karena tidak mendapatkan nikmat hidayah dari Allah?

Seorang muslim yang memiliki kalimat tauhid dalam hatinya, meskipun di dunia hidup dalam kekurangan, ketika ia meninggal dalam keadaan memiliki iman di dalam hatinya, maka ia langsung dapat tiket menuju surganya Allah.

Meskipun di dunia ini mungkin kita melihat saudara-saudara kita di Palestina hidup dipenuhi dengan ujian dari Allah, namun kalimat tauhid tetap terikat dalam hati mereka.

Dalam kesempatan ini Ustadz akan membahas tentang Ramadan Syahrul Quran, apa korelasi antara bulan mulia Ramadan dengan Quran serta apa yang harus kita persiapkan.

Mempersiapkan Ramadan Syahrul Quran

Tarhib Ramadan bersama Ustdaz Ibrohim

Ada seorang ulama yang mengatakan :

“Bulan Rajab adalah bulan menanam, dan bulan Syaban adalah bulan untuk menyiram tanaman, dan bulan Ramadan bulan untuk memanen”

“Bulan Rajab itu seperti angin yang berhembus, dan bulan Syaban itu seperti mendung, dan Ramadan adalah seperti hujan.”

“Siapa yang tidak menanam benihnya di bulan Rajab, dan juga tidak menyirami benih tersebut di bulan Syaban, bagaimana mungkin dia bisa memanen hasil tanamannya di bulan Ramadan?”

Artinya apa? Memasuki bulan Ramadan itu butuh persiapan. Selama bulan Rajab kita membiasakan diri, lalu memeliharanya di bulan Syaban sehingga di bulan Ramadan kita akan menjalaninya dengan mudah.

Allah berikan fasilitas agar kita selalu mengingat Allah lewat hal-hal seperti ini. Contohnya saja melalui perintah salat 5 waktu. Ketika disibukkan oleh dunia, lalu diingatkan tentang Allah melalui salat lima waktu. Sehingga dunia tidak dipenuhi dengan kegelisahan atau kecemasan. Karena kita selalu dibantu dengan mengingat Allah.

Dalam setiap bulan, Allah juga mengingatkan kita dengan puasa-puasa sunnah, seperti puasa Senin Kamis, Yaumul Bidh, dan lain-lain. Lalu setiap tahun kita diingatkan dengan bulan Ramadan yang sangat istimewa.

Setelah bulan Ramadan, ada Qurban, ada zakat, sehingga hampir setiap waktu kita tidak pernah lupa dengan Allah.

Lalu apa yang kita lakukan di bulan Syaban ini sebagai persiapan untuk memasuki bulan Ramadan??

Kalau kita baru memulainya sekarang, kita masih ada waktu untuk memperbaikinya, karena tidak ada kata terlambat.

Salah satu hal yang dicontohkan oleh Rasulullah adalah dengan memperbanyak puasa di bulan Syaban.

Seperti yang telah kita ketahui, bulan Rajab dan Syaban adalah dua bulan yang istimewa. Bulan Syaban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, karena terletak di antara bulan Rajab dan Ramadan. Bulan Rajab adalah salah satu bulan haram, apalagi Ramadan yang menjadi bulan yang sangat istimewa.

Bulan Syaban juga disebut sebagai bulan Qurro atau bulannya para Qori’. Karena di bulan ini banyak orang membiasakan untuk memperbanyak membaca AlQuran, sehingga nantinya di bulan Ramadan, kita akan terbiasa dengan memperbanyak tilawah.

Untuk mendapatkan hal spesial ini memang butuh persiapan. Untuk melakukan sesuatu yang istimewa harus melakukan yang terbaik dengan persiapan yang terbaik. Mari kita simak salah satu hikmah istimewanya bulan Ramadan.

Kisah Mimpi Thalhah Bin Ubaidillah Tentang Istimewanya Bulan Ramadan

Ustadz Boim berbagi kisah tentang mimpi dari sahabat Rasulullah, Thalhah bin Ubaidillah.

Diceritakan tentang dua orang lelaki bertakwa dari suku Qudha’ah yang ringan tangan membantu dengan harta maupun tenaga untuk dakwah Islam. Hingga suatu saat keduanya dengan gembira memenuhi panggilan jihad dan berharap mati syahid yang dijamin masuk surga.

Dalam perang tersebut, seorang meninggal syahid sedang seorang lainnya pulang membawa kemenangan gemilang. Setahun kemudian, ia meninggal karena sakit.

Suatu malam Thalhah bermimpi tentang keduanya. Saat itu, Thalhah berada di depan pintu surga bersama kedua sahabat tersebut. Tiba-tiba dari dalam surga terdengar suara yang memanggil sahabat yang meninggal karena sakit dan mempersilakan masuk surga. Setelah itu baru terdengar suara lagi memanggil sahabat yang mati syahid, dan masuklah ia ke dalam surga.

Lalu kembali terdengar suara dan berkata kepada Thalhah, “Kembalilah karena belum waktumu masuk surga.” Thalhah pun terbangun dari mimpinya.

Keesokan hari Thalhah menceritakan mimpi tersebut kepada sahabat-sahabat lainnya namun mereka tidak percaya. Bagaimana mungkin sahabat yang meninggal karena sakit dipanggil lebih dahulu masuk surga daripada yang mati syahid.

Kisah ini pun terdengar Rasulullah Saw, lalu dipanggil Thalhah untuk menceritakan.

Mendengar cerita mimpi Thalhah tersebut, Rasullullah membenarkannya dan para sahabat pun heran. “Mengapa temannya yang meninggal terakhir masuk surga lebih dahulu daripada temannya yang meninggal karena mati syahid?’’ Rasulullah saw bertanya balik: “Bukankah temannya itu masih hidup setahun setelah kematiannya?” Mereka menjawab: “Betul.”

Rasulullah bertanya: “Dan bukankah ia masih mendapati Ramadhan, lalu ia berpuasa, melakukan shalat ini dan itu selama satu tahun itu?” Mereka menjawab: “Betul.” Maka Rasulullah berkata: “Maka jarak antara mereka lebih jauh daripada jarak antara langit dan bumi” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)

Dari kisah tersebut menunjukkan betapa keutamaan bulan Ramadhan dan ibadah di dalamnya dapat mengalahkan keutamaan seorang yang mati syahid.

Seistimewa itu bulan Ramadan!

Barangsiapa dia terhalangi dari kebaikan di bulan tersebut, maka ia akan terhalangi dari kebaikan apapun. 

Korelasi Bulan Ramadan dengan AlQuran, Ramadan Syahrul Quran

Syahru Ramadan unzila fiihil Quran, maksudnya adalah AlQuran turun secara lengkap ke langit dunia pada bulan Ramadan. Lalu turun pada Rasulullah secara bertahap.

Lalu ada surat Al-Qadr yang menjadi satu surat khusus yang membahas tentang malam Al-Qadr di bulan Ramadan.

Mengapa bulan Ramadan menjadi bulan yang istimewa? Karena Al-Quran turun di dalamnya. Setiap hal yang berkaitan dengan Quran akan diistimewakan oleh Allah. Al Quran ini diturunkan di satu tempat yang gersang. Namun tempat yang tadinya gersang, menjadi tempat yang sangat istimewa di sana yakni Mekkah dan Madinah, yang di sanalah hidup Rasulullaah dan di sana lah Quran turun.

Rasulullaah juga menjadi manusia yang istimewa, karena lagi-lagi karena beliaulah yang mengemban dan menyebarkan AlQuran.

Malaikat yang terbaik adalah Jibril, karena lagi-lagi berkaitan dengan AlQuran, dan Jibril lah yang menyampaikan wahyu (AlQuran) pada Rasulullah.

Malamnya terbaik, tempatnya terbaik, dan ummatnya adalah ummat yang terbaik.

Maka kalau kita ingin menjadi orang terbaik, dekatilah Al Quran. Tentunya dengan mengamalkan kandungan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam :

Sebaik-baik dari kamu adalah yang belajar dan mengajarkan AlQuran.

Adapun puasa di bulan Ramadan akan menghalangi kita semua dari siksaan api neraka dan memberikan syafaat pada ahli puasa dan juga ahli AlQuran.

Selain itu, pada bulan Ramadan juga disunnahkan untuk membaca AlQuran di malam hari.

Berikut adalah contoh para ulama terdahulu yang kehidupannya begitu dekat dengan AlQuran :

  • Sahabat Usman bin Affan berdiri setelah salat Isya dan mendirikan salat dengan membaca AlQuran seluruhnya dalam 1 rakaat (salat witir).
  • Dahulu Imam Ibnu Hanifah selalu mengkhatamkan AlQuran sehari sekali, dan di bulan Ramadan beliau mengkhatamkan Quran dua kali sehari. Siang hari satu kali dan malam hari satu kali. Jadi dalam 30 hari, beliau mengkhatamkan 60 kali.
  • Imam Bukhori mengkhatamkan AlQuran di siang hari bulan Ramadan satu kali, lalu di malam hari beliau mengkhatamkan tiga hari sekali.

Adapun hikmah yang juga disebut-sebut oleh ustadz Boim siang ini dan memberikan inspirasi bagi saya untuk selalu menjaga Quran, salat malam, dan juga puasa yakni :

Apabila seorang mukmmin itu dalam keadaan sakaratul maut, maka akan diperintahkan pada malaikat maut tersebut : “Cium kepalanya,” lalu malaikat maut menjawab: “Aku mendapati di kepalanya ada Quran.”

Cium hatinya, dan malaikat maut lagi-lagi menjawab : “Aku mendapati di dalam hatinya ada puasa.”

Cium telapak kakinya, lagi-lagi malaikat maut menjawab: “Aku mendapatkan di dua telapak kakinya ada qiyamul lail.”

Lalu dikatakan, “Sesungguhnya ia telah menjaga jiwanya dengan AlQuran, puasa dan Qiyamul lail, sehingga Allah pun menjaganya.”

Demikian juga dengan AlQuran, tidaklah AlQuran itu memberi syafaat pada siapa yang rela tidak tidur di malam hari untuk membacanya.

Semoga Allah memberikan umur panjang untuk kita semua agar bisa bertemu dengan Ramadan tahun ini dan tahun-tahun berikutnya. Aamiin.

Mari maksimalkan persiapan kita menuju bulan Ramadan, agar di bulan Ramadan nanti kita bisa memanen amalan-amalan kita, aamiin.

Leave a Comment

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)