Kisah Halimatus Sadiyah, Sang Pengasuh Pertama

Perempuan peradaban episode ke-11 bersama Ustadz Salim A Fillah kali ini berangkat dari Suku Badui, yakni Halimatus Sadiyah.

Badui berasal dari kata Badia yang artinya pedalaman atau pedesaan. Salah satu kebiasaan orang Arab saat itu adalah suka menitipkan anaknya untuk disusui oleh orang-orang Badui. Mengapa?

  1. Karena suasana di daerah pedalaman atau pedesaan lebih tenang, adem dan juga asri, jauh dari hiruk pikuk. Saat itu di Mekkah musim penyakit dan juga kotor (apalagi saat musim haji).
  2. Selain itu orang Arab suka membanggakan diri dengan jumlah anak mereka. Jadi ketika lahir seorang anak, mereka akan susukan pada orang lain agar mereka segera punya anak lagi. Karena yang namanya menyusui adalah kontrasepsi alami.
  3. Karena bahasa orang Badui tetap terjaga, tidak tercampur dengan bahasa ‘ammiyah (bahasa pasar di suku Quraisy dan juga bangsa Arab).
  4. Orang-orang Badui juga menjadikan persusuan sebagai salah satu sumber mata pencaharian. Karena orang-orang Quraisy menyusukan anaknya pada mereka, maka berhak mendapatkan bayaran yang tinggi.

Kisah Rasulullah dan Halimatus Sadiyah, Sang Pengasuh Pertama

Saat itu terjadi paceklik di perkampungan Badui. Dalam Al-Quran mereka tinggal di rumah-rumah yang terbuat dari kulit dan bulu. Karena mereka nomaden, hidupnya mengikuti kemana arah rumput hijau tumbuh. Suku Badui juga sudah tahu pola seperti itu setiap tahunnya.

Saat itu bertepatan dengan tahun kelahiran Rasulullah, yang lahir di tahun saat pasukan Abrahah membawa pasukan gajahnya ke Ka’bah karena tidak suka dengan berbondong-bondongnya umat menuju ke Mekkah. Namun Allah menghadang pasukan gajah ini dengan burung-burung kecil dengan panahnya yang menyala.

Allah atas kehendaknya tidak menyerahkan Ka’bah di tangan Abdul Muthalib maupun orang Nasrani, namun langsung dalam perlindungan Allah semata.

Lahirnya Nabi Muhammad menjadi momen penuh suka cita kakeknya, Abdul Muthalib dan juga pamannya, Abul Uzza (yang nantinya dikenal sebagai Abu Jahal). Bahkan ia menyelenggarakan jamuan dan juga membebaskan budak sebagai bentuk rasa syukurnya atas kelahiran Muhammad.

Nabi Muhammad pernah bersabda bahwa di setiap hari kelahiran beliau, yakni hari Senin, pamannya yang oleh AlQuran ini dicap sebagai orang kafir dan tidak terampunkan, baginya neraka yang abadi dan baginya siksa yang menyala-nyala, maka setiap hari Senin siksanya akan diringankan.

Setelah Rasulullah diakikahi dan diberi nama lalu dikembalikan pada Ibundanya, Ibunda Siti Aminah merasa bimbang. Ia juga ingin menyusukan anaknya di luar kota Mekkah. Apalagi saat itu kondisi kota Mekkah sangat buruk, tidak sehat, penuh ancaman dan juga bahaya.

Namun semua itu terhalang karena suaminya, Abdullah tidak meninggalkan nafkah yang cukup untuknya. Sehingga Ibunda Siti Aminah tidak mungkin bisa memberikan ujroh atau upah untuk orang yang menyusui anaknya.

Lalu Allah memilihkan seorang Ibu susu yang baik dan tulus ikhlas, sebagaimana Allah memilihkan Halimatus Sa’diyah seorang bayi istimewa yang memberikan keberkahan untuk keluarganya.

Saat itu Halimah tengah mengendarai keledai yang kurus dan lemah, begitu juga dengan kambingnya yang semuanya kurus, bahkan nyaris tidak mengeluarkan air susu setetes pun. Orang-orang pun enggan menyusukan bayinya pada Halimah.

Suami Halimah, Al Harits bin Abdul Uzza dengan kunyah Abu Kabsyah menjadi nama yang disebut saat mengejek Rasulullah. Hei anak Abu Kabsyah Sang Gembala.

Keprihatinan Halimah tersebut berlanjut hingga Rasulullah saat itu tidak mau disusui satu pun perempuan yang datang. Lalu Abu Kabsyah berbicara pada istrinya, “ada satu bayi lagi di kota ini yang belum mendapatkan Ibu susu yang cocok. Tapi sayang bayi ini adalah bayi yatim, dia dari keluarga terhormat tapi tidak kaya raya. Aku khawatir ia tidak akan bisa memberikan bayaran yang cukup untuk kita.”

Lalu Halimah berkata;

“Wahai suamiku, kalau engkau izinkan aku menyusui bayi itu maka aku akan susui dia, semoga bisa mendatangkan kebaikan untuk kita karena mengasuh anak yatim.”

Sudah menjadi keyakinan bagi Halimah bahwa merawat anak yatim akan mendatangkan keberkahan bagi dirinya dan juga keluarganya. Maka datanglah mereka ke rumah Ibunda Siti Aminah dan mengutarakan maksudnya. Aminah pun mempersilakan Halimah untuk menggendong bayi mulia, Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. 

Halimah menceritakan;

Ketika aku memangku bayi itu, serasa ada darah baru yang mengalir dalam tubuhku. Aku menjadi sangat sehat dan sangat kuat. Bahkan payudaraku yang semula rasanya itu kosong dan tidak bisa lagi menghasilkan susu, seketika penuh dengan susu. Lalu bayi itu menyusu padaku dengan sangat puas. Lalu tiba-tiba juga suamiku menjadi sangat sehat, anak-anakku yang semula demam juga menjadi sehat. Untaku yang semula lemas kini berjalan dengan penuh semangat. Begitu pula dengan kambing-kambing kami yang tiba-tiba bisa menghasilkan susu untuk kami minum sekeluarga. Sebagaimana kami yakin sejak awal, bahwa bayi ini adalah bayi yatim yang penuh berkah.”

Halimah pun cepat-cepat pamit pada Aminah, takut Ibunda Aminah berubah pikiran. Lalu Halimah pun membawa pergi Muhammad dalam gendongannya untuk pulang ke perkampungan Bani Sa’ad. Perkampungan Bani Sa’ad ini dihuni oleh suku Hawazin (penduduk kota Thaif) yang jauh dari Mekkah, dan letaknya berada di bawah pegunungan Thaif.

Saat berangkat mulanya rombongan Halimah selalu disalip oleh rombongan-rombongan lainnya karena unta dan ternaknya yang lemas. Namun saat pulang, rombongan Halimah bisa mendahului rombongan lainnya. Sampai-sampai salah satu rombongan bertanya pada Halimah,

“Hai Halimah apakah kau mengendarai setan?”

Kisah Halimatus Sadiyah Saat Merawat Rasulullah 

Sejak saat itu pula ternak yang dimiliki oleh keluarga Halimah beranak pinak dan berkembang dengan sangat pesat. Bahkan dengan itu semua Halimah bisa membantu keluarga-keluarga lain yang kesulitan makanan.

Semua keberkahan itu didapatkan oleh Halimah karena Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.

Sampai tiba akhirnya persusuannya sempurna dua tahun dan saatnya Halimah mengembalikan Muhammad pada Ibunda Siti Aminah. Dalam hatinya sebenarnya ia tidak rela mengembalikan bayi yang penuh berkah itu, namun ia harus kembalikan pada ibunya.

Maka dengan berat hati, Halimah kembali ke kota Mekkah untuk mengembalikan Muhammad pada Sayyidah Aminah. Namun ternyata di Mekkah saat itu sedang terjangkit bawah semacam tipes atau kolera sehingga banyak orang yang sakit dan meninggal karena wabah itu.

Halimah bertanya pada Aminah dengan keberaniannya, “wahai Ibu sebenarnya saya mau mengembalikan anakmu, namun dengan kondisi Mekkah seperti sekarang, apakah kau izinkan jika saya membawa kembali anak ini ke perkampungan kami?”

Lalu Ibunda Aminah mengatakan, “demi kebaikan dan keselamatannya, bawalah kembali anakku ke perkampungan kalian.”

Maka Halimah pun membawa kembali Nabi Muhammad dan tumbuh bersama putra putrinya di perkampungan Bani Sa’ad. Sampai-sampai Rasulullah menganggap Syaima binti Al Harits sebagai kakak perempuannya. Karena Syaima saat itu yang banyak bermain dengan Rasulullah.

Sampai saat usia Nabi saat itu 5 tahun dan sedang menggembalakan kambing bersama putra putri Halimah, terdengar suara yang sangat keras dari langit; a huwa huwa? Apakah itu dia? 

Lalu tiba-tiba muncul di hadapannya dua orang laki-laki yang sangat tinggi, sangat bersih wajahnya, dan berpakaian putih (menurut takwil para ulama dua sosok tersebut adalah malaikat Jibril dan Mikail) membawa beliau ke sebuah mata air. Lalu di mata air itu, dada beliau dibelah, dikeluarkan jantungnya. Lalu salah satu malaikat mengatakannya pada yang lain, “keluarkanlah darinya al ghil wal hasad”.

Al Ghil ini adalah perasaan dendam, sakit hati, sensitif, mudah tersinggung. Adapun al hasad adalah rasa iri, dengki kepada nikmat yang turun pada orang lain.

Ini adalah dua perkara penting yang harus kita hilangkan dari diri kita agar menjadi orang yang berlapang dada dan senantiasa mendapatkan ketentraman dalam hidup dan juga hati yang khusyu. Dihilangkanlah al ghil dan al hasad dari dada beliau.

Lalu salah satu malaikat lagi mengatakan, “masukkan ke dalamnya ar ra’fah war-rahmah.”

Sebagai ganti dari al ghil dan al hasad maka dimasukkanlah ar ro’fah (kelembutan) dan ar-rahmah (kasih sayang).

Inilah mengapa nantinya Allah mensifati Rasulullah sebagai orang yang raufur rahim, yakni orang yang penuh kelembutan dan kasih sayang. Karena inilah yang ditanamkan pada Rasulullah oleh Allah.

Setelah dada beliau ditutup kembali, Rasulullah segera pulang dan dalam kondisi yang sangat ketakutan hingga wajah beliau pucat. Halimah bertanya, “ada apa wahai anakku?”

Lalu Rasulullah menceritakan kejadian di mata air tersebut dengan sangat rinci. Halimah pun ketakutan dan segera membawa Rasulullah pada seorang pendeta.

Lalu pendeta tersebut mengatakan bahwa kalau benar kejadiannya seperti itu, maka anak inilah yang nantinya akan mengubah agama seluruh bangsa Arab.

Halimah makin ketakutan lalu memutuskan bersama dengan suaminya untuk segera mengembalikan Muhammad pada Sayyidah Aminah. Diantarkanlah Nabi Muhammad ke pangkuan Ibundanya dan menceritakan kekhawatirannya. Namun justru Sayyidah Aminar tersenyum mendengar penuturan Halimah.

“Kalian tidak perlu khawatir karena pada saat aku mengandungnya, aku bermimpi perutku mengeluarkan cahaya yang menyinari Bumi Syam hingga Hadra Maut.”

Lalu Muhammad diasuh oleh Sayyidah Aminah hingga usia 6 tahun, saat itu Sayyidah Aminah mengajak Nabi Muhammad untuk berziarah mengunjungi Ayahnya, Abdullah di Yatsrib. Namun dalam perjalanan pulang, Ibunda Aminah jatuh sakit hingga akhirnya meninggal.

Muhammad kemudian diasuh oleh kakeknya. Sampai saat Nabi Muhammad dewasa, Halimah mendengar kabar perihal putra angkatnya ini bahwa beliau bergelar Al Amin, menikah dengan Khadijah, dan bagaimana Rasulullah menyelesaikan urusan perselisihan soal renovasi Kabah. Halimah selalu memantau putra angkatnya yang sangat disayangi ini, sampai mendengar dakwah Nabi Muhammad.

Halimah pun langsung mengikuti ajaran Rasulullah dengan bersyahadat.

Bukti Rasa Cinta dan Hormat Rasulullah Pada Ibu Angkatnya, Halimatus Sadiyah

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Halimah wafat sebelum Fathul Makkah. Ketika Rasulullah mendengar kabar tersebut, Rasulullah menangis.

Dalam riwayat lain, Ibunda Halimah sempat datang ke Madinah dan hidup hingga masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Karena pada saat terjadi perang Hunain, Halimatu Sadiyah mendatangi Rasulullah, dan Rasulullah dan bersabda:

“Kembalikanlah harta-harta dan keluarga suku Hawazin kepada anggota keluarga mereka. Karena sesungguhnya suku tersebut adalah suku dari Ibuku, yakni Halimatu Sa’diyah.”

Hal tersebut membawa keberkahan tersendiri bagi suku mereka dan tidak banyak mengalami kehilangan saat kekalahan mereka di perang Hunain, termasuk saat penaklukan kota Thaif. Ini semua disebabkan karena rasa hormat dan cinta Rasulullah pada Ibu angkatnya, Halimatus Sa’diyah.

Semoga kisah perempuan peradaban tentang Ibunda Halimatus Sadiyah ini bisa membawa inspirasi dan bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Ikuti juga kisah Perempuan Peradaban episode lainnya di sini yuk!

 

 

 

 

 

 

Leave a Comment

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)