Kisah ini bermula ketika Nabi Adam bertemu dengan Ibunda Hawa dan melahirkan Qabil dan Habil. Keduanya membawa kisah yang patut kita pelajari dalam episode kedua dalam rangkaian series 30 cerita Patah Hati Peradaban oleh Ustadz Salim A Fillah.
Quran mengisahkan dalam QS. Al-Maidah : 27 – 31 tentang anak Adam. Secara umum poin utama yang menjadi sebab dosa besar itu terjadi adalah karena permasalahan Qurban yang ditolak.
Meskipun para mufassir menambahkan kisah-kisah dari Israiliyat tentang apa sih sebabnya, kok sampai ada ujian pengorbanan ini? Kok sampai mereka diminta ibadah yang khusus untuk mereka berdua saja, bukan manusia secara umum? Biasanya kalau perintah pada seluruh dunia, kok yang kasus ini hanya untuk berdua saja?
Kisah Putra Adam : Qabil dan Habil
Mufassirun menjelaskan dari kisah Israiliyat bahwasanya dahulu memang Nabi Adam dan Bunda Hawa memiliki anak, setiap keturunan yang lahir selalu kembar berpasangan laki-laki dan perempuan.
Dan syariat saat itu adalah saudara kembar yang lahir bersama saat itu tidak boleh menikah. Harus silang dengan yang lahirnya berbeda atau kakak adik yang berbeda waktu saat kelahirannya. Qabil punya saudara kandung putri bernama Iklima. Sedangkan Habil punya saudari Labuda.
Qabil merasa bahwa saudarinya lebih cantik. Ia memiliki kecenderungan pada saudarinya sendiri, Iklima. Qabil berkata kurang lebih : “Kalau bisa aku nikah sama dia aja.”
Padahal saat itu syariat melarang hal seperti itu. Kemudian Qabil mencoba untuk melobi, bisa ngga sih kalau dia menikahi Iklima? Dari situlah pertama kalinya ada penentangan terhadap syariat.
Saat itu Allah berikan ujian untuk membuktikan bahwa siapa sebenarnya yang lebih layak atau Allah mungkin memberikan pengecualian, namun harus melewati tesnya terlebih dahulu. Maka mereka pun diminta untuk menghadirkan kurban yang terbaik pada Allah.
Karena Qabil saat itu bekerja di bidang pertanian dan perkebunan, maka ia menghadirkan hasil-hasil bumi, sedangkan Habil sibuk bekerja di bidang peternakan. Sehingga yang ia kurbankan adalah hewan-hewan ternak miliknya seperti kambing atau domba.
Pengorbanan Qabil dan Habil, Siapa Yang Terbaik?
Qabil dan Habil sama-sama memberikan pengorbanan, hanya saja kualitasnya berbeda. Habil menghadirkan kurban dengan kualitas terbaik, yang super lah ya, dan serius dalam berkurban pada Allah. Sedangkan Qabil memberikan sisa-sisa hasil pertanian dan perkebunannya untuk kurban pada Allah.
Ternyata kemudian Allah menjelaskan bahwa Allah menerima kurban salah satunya dan tidak menerima kurban dari satu lainnya.
Allah menerima kurban dari Habil karena effortnya lebih, karena namanya pengorbanan itu memang harus ada yang dikorbankan bukan? Ada sesuatu yang kita sayangi, kita cintai lalu kita persembahkan untuk Allah. Bukan sisa-sisanya saja.
Habil berkata saat itu : Sesungguhnya Allah itu hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertaqwa.
Bisa jadi kita beramal seperti salat berjamaah, atau seperti orang yang bersedekah, dan ibadah lainnya. Tapi mungkin ada amalan-amalan kita yang belum tentu diterima.
Kemudian saat itu kondisinya Qabil marah. Padahal ia lah orang pertama yang menentang syariat, lalu berubah menjadi hasad, tidak ridha kepada ketentuan Allah. Dan saat itu Qabil berniat untuk membunuh Habil.
Namun saat itu Habil justru mengatakan :
“Kalau kamu mau membunuh aku menggunakan tanganmu, maka aku tidak akan menggunakan tanganku untuk membunuhnmu, aku tidak akan melawan. Aku takut kepada Alah.”
Kata para ahli tafsir, sebenarnya saat itu kondisi Habil lebih kuat dibanding Qabil. Kalau Habil mau ribut, bisa menang.
Habil hanya mengingatkan, namun Qabil tetap tidak terima dan membunuh Habil dengan memukulkan batu besar pada kepala Habil dari belakang. Dan terjadilah dosa pertama di muka bumi saat itu.
Hikmah Kisah Dua Putra Adam
- Syariat Allah ditujukan kepada kita bukan hanya sebagai bentuk ketaatan kita pada Allah tapi juga sebagai ujian. Bisakah kita ketika dihadapkan pada satu urusan, yang pertama kita utamakan adalah aturannya Allah? Bukan kecenderungan hati kita atau bahkan hawa nafsu kita. Di sinilah Qabil gagal dan mempertanyakan, bisa ngga kalau aturannya diubah? Padahal syariat itu ada untuk kebaikan kita, apalagi sekarang kita sudah memahami ilmu genetika : semakin dekat kekerabatan itu maka semakin rawan muncul gen-gen buruk pada keturunan manusia.
- Putra-putra Adam sudah melakukan aktivitas peradaban yang cukup maju, seperti bertani, berkebun dan berternak. Hal ini menunjukkan bahwa Adam adalah makhluk yang istimewa, dan ia membawa ilmu dan kecerdasan untuk membangun peradaban manusia, bukan hasil dari evolusi.
- Qabil adalah pelopor dari dosa besar, yaitu pembunuhan. Maka ia pun menanggung seluruh dosa-dosa yang terjadi setelahnya di hari kiamat.
- Qurban betul-betul sebuah ujian berikutnya pada kita. Apa yang kita berikan pada Allah, apakah itu sesuatu yang besar dan berharga atau sesuatu yang biasa saja. Karena Allah telah “membeli” orang-orang mukmin itu dan membayarnya dengan surga. Padahal ibadah kita tidak sempurna, cacat dan rombeng di sana sini. Ini menunjukkan bahwa sifat Allah itu rahmat.
Jadi kita tidak bisa mengandalkan amal ibadah kita, tapi yang menyelamatkan kita adalah kasih sayang Allah. Karena kalau cuma mengandalkan barang dagangan kita, jangan-jangan tidak ada yang layak sama sekali?
Oleh karena itu setiap ibadah harus diikuti dengan hati yang tunduk yang mengharapkan rahmatNya, kasih sayangNya. Habil menunjukkannya, bukan hanya dari kurbannya yang terbaik, tapi juga hatinya yang takut kepada Allah, takut tidak dirahmati, takut tidak disayangi oleh Allah.
Karena yang sampai pada Allah dari Qurban kita bukan darahnya, bukan pula dagingnya, tapi hati kita. Ada orang yang berkurban sederhana tapi itu sudah effort terbaik baginya dan ia tulus berkurban hanya untuk Allah. Habil mengupayakan dhahir yang terbaik dan juga hati yang terbaik, dan kedua hal itu tidak ada pada Qabil.
Ikuti juga kisah Patah Hati lainnya di sini yuk!