Nabi Dawud dan Pertaubatannya

Masih dalam Series 30 Kisah Patah Hati bersama Ustadz Salim A Fillah. Dalam episode kali ini, Ustadz Salim akan bercerita tentang Nabi Dawud dan pertaubatannya.

Kisah ini bermula dari sebuah cerita yang disebutkan dalam Al-Quran (cerita ini adalah cerita yang shahih) bahwa Allah mengutus dua orang malaikat untuk menjelma menjadi dua orang peternak.

Satu orang di antara keduanya memiliki 99 ekor kambing betina dan kemudian meminta pada temannya yang hanya punya 1 ekor kambing betina agar genap menjadi 100. Karena perkara inilah mereka berdua berselisih. Lalu keduanya mengadukan pada Nabi Dawud, karena saat itu beliau adalah seorang Raja sekaligus pemutus hukum di Kerajaan Bani Israel.

Mereka menghadap Nabi Dawud, dan yang punya 1 kambing mengadu :

“Wahai Raja putuskanlah yang adil perselisihan di antara kami. Sesungguhnya kawan saya ini sudah punya 99 ekor kambing betina dan meminta kambingku satu-satunya demi menggenapkan kambing yang ia miliki sehingga jadi 100 ekor.”

Lalu Nabi Dawud memutuskan bahwa kawannya yang memiliki 99 kambing betina itu zalim.

Setelah itu keduanya menerima putusan Nabi Dawud dan memutuskan untuk undur diri. Namun setelah mereka berdua berpamitan, Nabi Dawud merasa “ah ini ujian Allah dari saya. Pasti ada sesuatu.”

Nabi Dawud merasa Allah mengujinya, lalu Nabi Dawud pun bertaubat dan Allah menerima taubatnya.

Hikmah di Balik Pertaubatan Nabi Dawud ‘alaihissalam

Kisah ini memang hanya sepotong. Sehingga ketika kita kulik di kitab-kitab tafsir maka kita akan menemukan bahwa ada riwayat yang telah disepakati oleh para ulama dan menyatakannya sebagai riwayat yang sahih. Ada juga yang menyatakan bahwa karena sebagian riwayatnya adalah riwayat Israiliyat, sehingga timbul perdebatan juga di kalangan ulama.

Jadi pendapat yang pertama disepakati terlebih dahulu adalah : pada saat itu Nabi Dawud sedang beribadah kepada Allah, kemudian datanglah dua malaikat (yang menjelma menjadi manusia) dan terdengar hiruk pikuk. Dan Nabi Dawud sempat berprasangka buruk pada dua orang ini. Lalu setelah aduan diterima dan diputuskan, Nabi Dawud menyadari bahwa dua orang ini tidak bermaksud jahat. Maka Nabi Dawud bertaubat atas ke-suudzon-nya tadi.

Namun banyak juga di kalangan Mufassir yang menyatakan bahwa tidak sesimple itu persoalannya. Para mufassir mengambil kaidah riwayat Israiliyat bahwa : jangan dibenarkan sepenuhnya dan jangan didustakan pula sepenuhnya.

Dalam riwayat lengkap, dalam beberapa kitab Tafsir juga dicantumkan bahwa Nabi Dawud bersumpah pada Allah akan melaksanakan satu ibadah yang panjang. Sebagaimana yang kita kenal bahwa Nabi Dawud memang seorang yang ahli ibadah.

Suatu kali beliau bertanya kepada seluruh Bani Israel, di hadapan para pemuka-pemukanya :

“Adakah dari kalian yang mampu beribadah secara terus-menerus selama 3 hari?”

Tidak ada. Maka Nabi Dawud mengatakan : “insya Allah aku bisa.” Maka masuklah Nabi Dawud ke dalam mihrabnya.

Lalu di tengah-tengah ibadahnya itu Allah mengujinya dengan mengirim seekor burung dengan bulu-bulunya yang cantik ke dalam mihrabnya. Sehingga Nabi Dawud tidak fokus dengan ibadahnya. Hingga ketika burung itu keluar, Nabi Dawud pun mengikutinya. Ketika diikuti keluar, terbanglah burung ini. Dan ketika burung ini terbang, ia melintas di atas pemandian dan di pemandian tersebut ada seorang perempuan yang sedang mandi. Perempuan cantik tersebut dalam Bible dikatakan bernama Bathsheba. Yaitu seorang istri dari prajurit bernama Uriya.

Dalam ujian itu, Nabi Dawud tergoda oleh perempuan tersebut dan ia menanyakan ke panglimanya, “istri siapa ini?”

“Ia adalah istri seorang prajurit bernama Uriya.”

“Kemana prajurit itu?” Kata Nabi Dawud

“Ia akan berangkat untuk berperang di garis depan.” Ujar Sang Panglima.

Namun dalam versi Bible, kisah ini lebih banyak memuat perbuatan negatifnya Nabi Dawud. Sehingga Nabi Dawud dikatakan menulis surat pada panglima agar menempatkan Uriya di garis terdepan. Sehingga Uriya nantinya segera gugur. Kalau Uriya gugur, Nabi Dawud bisa menikahi Bathsheba.

Namun ada sebuah riwayat pula yang mengatakan bahwa Nabi Dawud meminta baik-baik Bathsheba ini pada Uriya, karena Nabi Dawud saat itu sudah memiliki 99 istri. Sebagaimana kisah kambing tadi, Nabi Dawud ingin menggenapkannya menjadi 100.

Beberapa ulama menyebutkan bahwa perkara seperti ini di zaman itu adalah perkara yang lazim. Jadi bukanlah sebuah aib, dan syariat belum membatasi jumlah istri.

Jadi saat itu kalau ada orang yang meminta untuk menceraikan istrinya dan menjadikannya istri, bukanlah sebuah aib, bukan dosa. Dan hal itu tidak keluar dari konteks kemaksuman, karena itu bukan dosa dan bukanlah maksiat. Hanya saja ini adalah perkara yang tidak patut. Sehingga Allah mengirimkan sindiran dengan mengirimkan dua malaikat tadi.

Kejadian tersebut adalah peringatan Allah yang lembut pada Nabi Dawud.

Begitu Nabi Dawud merasakan sindirian tersebut, beliau langsung bertaubat pada Allah dengan mengurung diri berpuluh-puluh hari dengan istighfar, bertasbih dan ibadah lainnya. Nabi Dawud patah hati hingga ingin Allah menerima taubatnya. Lalu Allah pun akhirnya menerima taubat Nabi Dawud.

Hikmah dari pertaubatan yang dilakukan Nabi Dawud ini adalah : “jangan tergoda dengan godaan kecil yang akhirnya akan menjerumuskan kita ke dalam godaan yang lebih besar.”

 

 

 

 

 

Leave a Comment

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)