Alhamdulillah, bagi saya malam ini adalah malam kedua di bulan Ramadan setelah kemarin perdana melaksanakan salat tarawih berjamaah. Sama dengan pemateri pada malam hari ini, Ustadz Rifqi Djafar Thalib yang akan memberikan materinya dalam Kajian Online Masjid ASA yang dilaksanakan perdana pada Rabu 18 Februari 2026.
Materi hari ini tentang Menjadikan Ramadan Sebagai Bulan Mendidik Hati Anak yang disampaikan oleh Ustadz Rifqi dengan jelas, lugas, dan mudah dipahami. Apalagi bagi saya, seorang Ibu yang punya putri berusia 7 tahun. Usia-usia yang harusnya saya isi dengan pendidikan terbaik baginya.
Maka ini adalah salah satu cara saya untuk belajar dan terus belajar sebagai seorang Ibu.
Hubungan Antara Ramadan dan Pendidikan
Ayat-ayat perihal Ramadan seringkali kita dengar melalui ceramah, lantunan ayat dalam salat Jamaah dan lainnya selalu merujuk pada Surat Al-Baqarah ayat 183-187.
Ayat-ayat tersebut di atas mengacu pada tema besar surat Al-Baqarah : yaitu hakikat penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Jika dibedah, Ustadz Rifqi menjelaskan, ada tujuan besar ayat-ayat tersebut yang berhubungan dengan tema besar QS. Al-Baqarah dan juga Ramadan, yaitu :
- Ayat 183 : disebutkan bahwa goal dari Ramadan itu sendiri adalah agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Artinya tidak merusak. Nah, ketika kita berpuasa harapannya kita tidak merusak diri sendiri dan juga orang lain.
- Ayat 185 : Puasa akan melatih kita untuk bersyukur. Karena yang menyebabkan bumi ini rusak pada dasarnya adalah kerakusan.
- Ayat 186 : Puasa akan menuntun kita untuk mendapatkan petunjuk dari Allah (dalam kondisi perut kosong maka akal pikiran akan jadi jernih dan hati melunak, sehingga mudah menerima nasihat).
- Ayat 187 : menjadi orang yang bertaqwa, sama halnya dengan ayat 183.
Keempat hal tersebut merujuk pada kepantasan kita menjadi khalifah di muka bumi ini (sebagaimana tema besar QS. Al-Baqarah).
Selain itu Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadan (dari langit dunia melalui malaikat Jibril pada Nabi Muhammad), dan isi dari Al-Quran itu sendiri adalah sebuah pendidikan.
Allah turunkan Al-Quran sebagai petunjuk, sebagai penjelasan dari sebuah petunjuk dan juga pembeda. Inilah pendidikan yang sesungguhnya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah : 185
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”.
Al-Quran sebagai petunjuk artinya petunjuk untuk manusia secara umum, entah Muslim maupun kafir. Contohnya bagaimana meneladani gaya hidup sehat Nabi Muhammad.
Al-Quran sebagai penjelasan mengenai petunjuk artinya petunjuk untuk mereka yang mengimani Al-Quran. Maksudnya di sini adalah sebagai petunjuk spesifik terutama perkara-perkara ghaib yang hanya diimani dan diambil pelajarannya oleh orang-orang yang bertaqwa.
Al-Quran sebagai pembeda artinya untuk membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang merusak dan memelihara, dan seterusnya.
Itulah hubungan antara Ramadan dan Pendidikan, Ramadan yang di dalamnya turun Al-Quran, sebuah kemuliaan yang tiada bandingnya.
Lalu pendidikan yang seperti apa? Sebenarnya Al-Quran memiliki semuanya, hanya saja fokus kita pada kajian malam ini adalah pendidikan anak, oleh karena itu Ustadz Rifqi mempersempit pembahasannya pada pendidikan anak saja. Simak ya!
Ramadan dan Pendidikan Anak
Lalu apa sih yang wajib kita berikan untuk pendidikan anak?
Ada tiga pendidikan wajib yang diajarkan pada anak sebagaimana yang tercantum dalam garis besar QS. Al-Baqarah juga, yaitu :
- Aqidah : sebagaimana para sahabat Nabi yang mengajarkan kalimat “Allah” pada anak-anaknya sebelum keluar kalimat lain dari mulutnya. Serta bagaimana Rasulullah mendahulukan iman sebelum Al-Quran, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Jundub ibn Abdillah : “Kami belajar bersama Nabi tentang iman sebelum Al-Quran.” Baru setelah imannya kokoh, belajar Al-Quran untuk memantapkan dan menyempurnakan imannya.
- Ibadah : contohnya ada pada hadist yang sudah kita ketahui bersama bahwa Rasulullah memerintahkan para sahabat dan juga keluarganya agar menyuruh anak mereka melaksanakan salat ketika usia tujuh dan memukul mereka jika tidak mau menegakkan salat di usia 10 tahun.
- Akhlaqul Karimah : sebagaimana Allah mengutus Rasulullah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.
Ketiga hal ini jika kita ajarkan pada anak maka insya Allah semua akan baik-baik saja 🙂
Mendidik Anak dengan Membangun Koneksi Hati
Hal terpenting dari semua pendidikan tersebut adalah pendidikan dari hati ke hati. Karena tidak ada pendidikan terbaik kecuali tarbiyah dari hati ke hati.
Sebagaimana Rasulullah mendidik pemuda di zamannya. Yakni ketika ada seorang pemuda datang padanya dan meminta izin untuk melakukan zina, Rasulullah tidak marah, tidak juga memborbardirnya dengan ayat-ayat Al-Quran. Namun Rasulullah langsung menyasar hatinya dengan mengajukan pertanyaan pada sang pemuda : “Kamu punya Ibu? Kamu punya anak perempuan? Kamu punya saudara perempuan? Bagaimana jika mereka dizinahi orang lain? Orang yang kamu zinahi itu mungkin saja punya Ayah, punya kakak dan punya keluarga sepertimu yang tidak akan terima jika dizinahi.” Lalu disentuhlah dada pemuda tersebut oleh Rasulullah sembari didoakan :
“Ya Allah bersihkan hatinya dan jagalah kemaluannya.”
Maka sang pemuda sontak pergi dengan hati yang penuh kebencian dengan dosa zina. Padahal ia datang pada Nabi untuk meminta izin berzina.
Inilah yang harus kita lakukan dalam mendidik anak. Aqidah, Ibadah, Akhlaq, semua itu penting. Tapi yang tidak kalah penting adalah membangun koneksi dengan anak-anak kita. Jika koneksi itu ada, insya Allah anak-anak akan mengingat semua yang sudah kita ajarkan.
Anak-anak juga akan takut jika hendak melakukan keburukan, karena mereka merasakan betapa pedihnya orangtuanya jika mereka melanggar perintah dan larangan Allah.
Ini jadi gong buat saya yang selama ini mungkin belum maksimal untuk menghadirkan hati dalam mendidik anak. Masih tujuh tahun, masih belum terlambat untuk mereset pola asuh dengan memprioritaskan koneksi hati antara saya dan anak, juga mendahulukan keimanan di atas segalanya.
Alhamdulillah, itulah intisari dari kajian malam ini yang disampaikan oleh Ustadz Rifqi Djafar Thalib. Isinya daging semua dan semoga Allah mudahkan saya untuk konsisten mengikuti kajian ini sampai akhir Ramadan nanti.
Semoga resume ini bermanfaat dan menjadikan kita orangtua yang punya koneksi hati dengan anak-anak, aamiin.\
