Episode kali ini dari serangkaian 30 Kisah Patah Hati, Ustadz Salim A Fillah membahas tentang Thalhah yang patah hati dan Rasulullah cemburu dengannya.
Kisah ini berlatar belakang dari sebab turunnya QS. Al Ahzab : 53 diambil dari beberapa riwayat yang mengisahkan ketika Sayyidina Umar bin Khattab terluka dan menjelang wafatnya beliau mengangkat 6 orang yang akan menjadi Majelis Syura untuk memilih khalifah yang baru sepeninggal Umar.
Keenam orang ini juga dijamin masuk surga oleh Rasulullah, di antaranya : Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqash, Thalhah, Zubair, Usman, dan Ali.
Ternyata metode Sayyidina Umar ini menarik. Setiap anggota syura ini dipanggil secara private dan digali aspirasinya dan apakah mereka punya ambisi. Metode Sayyidina Umar ini dengan menjatuhkan ambisi mereka terlebih dahulu.
Termasuk pada Thalhah, Sayyidina Umar bertanya padanya “apakah kamu ingin jadi khalifah?” Lalu Thalhah menjawab :
Dalam soal siapa yang lebih dahulu masuk Islam dan siapa yang lebih besar kontribusinya pada Islam, aku tidak bisa disebut kurang daripada engkau.
Dari jawaban Thalhah tersebut, Sayyidina Umar mencari cara untuk menurunkan ambisinya itu. Lalu Umar mengatakan : “Aku seperti tidak mengenalmu wahai Thalhah setelah kamu berubah menjadi pria sombong karena Rasulullah mengatakan bahwa kamu adalah ahli surga yang masih berjalan di bumi. Sejak hari Uhud itu kamu berubah jadi orang yang sombong. Ingatlah bahwa Rasulullah wafat dalam kondisi masih marah sama kamu, gara-gara kamu turunlah ayat dari langit tentang dilarang meminta-minta sesuatu kepada istri-istri Nabi kecuali dari balik hijab, dan dilarang menikahi istri-istri Nabi setelah beliau wafat.”
Mendengar itu Thalhah menunduk dan menangis.
Kisah ini pun juga diulang oleh Ali bin Abi Thalib ketika Thalhah, Zubair dan Aisyah berhadapan dengan beliau dalam wa’atul mamal atau insiden perang berunta. Dimana mereka berada di pihak yang menuntut atas kematian Sayyidina Ustman. Tapi keberpihakan mereka dimanfaatkan oleh banyak golongan sehingga menjadi perpecahan di kalangan kaum Muslimin.
Saat itu Sayyidina Ali juga secara private memanggil para sahabat-sahabat ini. Zubair dipanggil, begitu pun Thalhah.
Ali kembali bertanya alasan mengapa ayat hijab turun karena apa?
“Karena aku.” Kata Thalhah.
“Karena kamu bicara dengan Aisyah di dalam rumah Rasulullah. Lalu sekarang sesudah Rasulullah wafat kamu membawanya ke hadapanku.”
Lagi-lagi menangislah Thalhah.
Sehingga indikasi bahwa di balik turunnya ayat tersebut adalah Thalhah bin Ubaidillah benar adanya. Namun tentu saja itu semua tidak mengurangi kemuliaan Thalhah.
Kisah ini menggambarkan bahwa para sahabat Nabi juga punya sisi manusiawi. Sesungguhnya saat itu Thalhah berada di rumah Rasulullah dan sedang ngobrol dengan Aisyah, dan mereka memang sepupu dan sejak kecil sangat akrab.
Di saat itu Rasulullah tidak nyaman. Sampai dalam satu riwayat diceritakan bahwa saat itu Rasulullah sampai keluar, memberi sinyal bahwa Thalhah seharusnya juga keluar dari rumahnya. Namun ternyata Thalhah tidak ikut keluar. Nabi sampai bolak balik tiga kali, dan ketika keluar untuk yang ketiga kalinya Umar menghampiri Rasulullah :
“Wahai Rasulullah ada apa?”
“Ada orang di dalam, tapi saya keluar dia tidak ikut keluar.”
Umar langsung menggebrak pintu, dan Rasulullah membuang muka ketika Thalhah keluar.
Sampai di luar Thalhah tersinggung. Kemudian satu kalimat keluar, “kenapa beliau melarangku berbicara dengan sepupuku sendiri? Kalau beliau wafat aku bebas menikahi dia.”
Lalu turunlah ayat tentang hijab dan sejak saat itu istri-istri Nabi wajib mengenakan hijab. Lalu turun pula larangan untuk menikahi istri-istri Nabi.
Saat ayat itu turun, Thalhah langsung memerdekakan budak dan menyedekahkan 10 unta dan berusaha menebus dosanya dengan berjalan kaki menunaikan umroh ke Mekkah.
Namun yang paling menyesakkan di antara kejadian tersebut adalah ketika ia berencana meminta maaf pada Nabi sepulang umroh di Madinah. Namun ketika ia sampai ke Madinah, Rasulullah sudah wafat. Thalhah sangat patah hatinya karena belum sempat meminta maaf.
Sepahit itu kalau kita belum sempat meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
Setelah wafatnya Thalhah dan Zubair dalam perang unta, Sayyidina Ali memakamkan keduanya berdampingan dan memangku anak-anak Thalhah dan Zubair :
“Nak aku berharap bahwa aku dan ayah-ayah kalian adalah yang disebut Allah dalam Quran; ‘dan Kami cabut semua rasa sesak, dendam, dan iri di hati mereka. Kami jadikan mereka sebagai orang-orang yang bersaudara di dalam Surga, di atas dipan-dipan saling ridha dan menikmati surga bersama-sama dengan penuh persaudaraan.”
Ini adalah sisi lain sahabat Rasulullah yang juga punya sisi manusiawi yang punya khilaf dan kesalahan.
Ikuti kisah Patah Hati lainnya bersama Ustadz Salim A Fillah di sini yuk!