Episode kali ini dari serangkaian 30 Kisah Patah Hati, Ustadz Salim A Fillah membahas tentang Abu Lahab yang namanya diabadikan di dalam Al-Quran.
Abu Lahab punya nama asli Abdul Uzza bin Abdul Muthallib, jadi satu tingkatan dengan Ayahnya Nabi, Abdullah bin Abdul Muthallib, hanya saja berbeda Ibu.
Abu Lahab adalah orang yang paling bahagia ketika anak dari saudaranya lahir, yaitu Muhammad. Bahkan Abu Lahab membuat perjamuan dengan mengundang tokoh-tokoh di desa karena kelahiran Nabi Muhammad. Ia merasa sudah mendapatkan ganti adiknya yang sudah meninggal.
Terlebih bayi laki-laki saat itu sangat dihargai dan sekali lagi Abu Lahab paling bahagia atas kelahiran Nabi Muhammad kala itu.
Dinamakan Abu Lahab karena ia memiliki warna kemerah-merahan di wajahnya, juga punya wajah yang tampan. Tetapi kita tahu bagaimana Abu Lahab, seorang paman yang sayang sekali pada keponakannya, Muhammad lalu berubah menjadi sangat benci.
Mengapa Abu Lahab Sekecewa Itu?
Ada sebuah nasihat : “Cintailah sewajarnya dan bencilah sewajarnya.” Karena hati memang seringkali berbolak-balik. Juga batas antara cinta dan benci itu sangat tipis. Sama-sama ada perhatian pada orang yang kita cinta dan juga kita benci.
Yang dilakukan Abu Lahab selalu kepo, bagaimana perkembangannya, bagaimana kesehatannya Muhammad kecil kala itu. Namun ada nilai yang lebih tinggi daripada itu, yaitu agamanya juga tatanan masyarakat Quraisy kala itu. Bagi Abu Lahab itu adalah prinsip paling sakral di atas apapun.
Maka ketika Muhammad menentang apa yang sudah diyakini Abu Lahab kala itu, otomatis Abu Lahab berubah.
Titik yang membuat Abu Lahab patah hati adalah ketika di bukit Shafa.
Saat itu Nabi Muhammad pergi ke bukit Shafa dan mengumpulkan para pemuka Quraisy dan juga seluruh kerabatnya.
Wahai orang-orang Quraisy kalau aku mengatakan pada kalian bahwa di balik bukit Shafa ini ada 500 pasukan berkuda yang lengkap senjatanya yang siap menyerang dan menghancurkan kota Mekkah, apakah kalian akan percaya padaku?
“Kami percaya karena engkaulah Al-Amin, yang paling kami percaya.”
Lalu Rasulullah mengatakan :
“Kalau demikian maka aku katakan pada kalian bahwa aku adalah pemberi peringatan dari sisi Allah Rabbul Alamin, sebelum datangnya hari yang siksanya sangat pedih, hendaklah kalian menyembah Allah dan meninggalkan berhala-berhala itu semuanya.”
Kagetlah semua orang yang berkumpul di situ, termasuk di situ ada seorang laki-laki yang tampan wajahnya, merah pipinya, ia berjalan dengan kaki yang pincang dan mata yang juling dan ia mengacungkan tangannya ke wajah Rasulullah :
Binasa kamu Muhammad! Apakah untuk ini kami dikumpulkan? Gila kamu! Kamu mengumpulkan kami hanya untuk meruntuhkan hal yang sudah mapan di tengah-tengah kami.
Orang pun berbisik-bisik, “siapa dia?”, “Pamannya.”
“Kalau pamannya saja tidak mau mengikuti bagaimana bisa kita mengikutinya?”
Akhirnya orang-orang bubar karena Abu Lahab.
Setiap kaki Muhammad melangkah, Abu Lahab selalu mengikutinya dan meneriakkan “Pembohong! Pembohong!” pada Nabi Muhammad.
Sejak saat itu permusuhan dikibarkan dari sisi Abu Lahab. Bahkan ia rela menaburkan duri di seluruh jalan yang dilewati oleh Nabi Muhammad, agar ketika beliau pergi ke Ka’bah kakinya tertusuk duri. Sebegitu menyakitkannya permusuhan Abu Lahab pada Nabi Muhammad.
Yang paling menyakitkan bagi Nabi Muhammad dan Ibunda Khadijah kala itu adalah ketika Abu Lahab mengumumkan perceraian dua putranya dengan dua putri Nabi Muhammad di depan Ka’bah.
Setidak sudi itu Abu Lahab dengan Nabi Muhammad hingga memberikan penghinaan yang menyakitkan.
Hingga turunlah surat Al-Lahab yang Quran abadikan bagaimana hidayah sudah tertutup bagi Abu Lahab.
Akhir Hidup Abu Lahab
Abu Lahab mati mengenaskan setelah perang Badar. Jadi Abu Lahab sebenarnya tidak berangkat ke perang Badar, ia menyuruh orang lain dan membayar 4000 dirham.
Namun begitu berita kekalahan itu datang dan banyak dari kaum Quraisy tewas, Abu Bakar mendengarnya dari budak Abbas. Budak tersebut tidak sengaja bersorak karena kemenangan Rasulullah. Sontak Abu Bakar marah dan memukul kepala budak Abbas.
Sedangkan di sisi budak tersebut ada istrinya. Istrinya marah dan mengambil penggiling kayu lantas memukul kepala Abu Lahab karena tidak terima budaknya disakiti.
Lalu Abu Lahab pun terluka dan ketika pulang luka itu makin parah, infeksi dan membusuk sampai tak tertolong. Bahkan keluarganya sendiri jijik pada Abu Lahab. Diceritakan jasad Abu Lahab dikuburkan di sebelah ranjangnya. Karena orang-orang tidak mau mengurus Abu Lahab, jasadnya didorong dengan kayu hingga jatuh ke lubang di sebelah ranjangnya.
Semoga artikel ini bermanfaat dan mari mencintai orang sewajarnya dan bencilah seseorang juga sewajarnya. Ikuti juga kisah Patah Hati lainnya bersama ustadz Salim A Fillah di sini yaa!