Cleopatra dan Goncangnya Kekaisaran Romawi

Episode kali ini dari serangkaian 30 Kisah Patah Hati, Ustadz Salim A Fillah membahas tentang seorang Ratu Mesir yang terkenal dengan kecantikannya di masa kini. Yes, ia adalah Cleopatra.

Namun sebelum itu, perlu kita ketahui fakta bahwa pembangunan piramid di masa Cleopatra 1 sampai yang terakhir berlangsung selama 2700 tahun! Cleopatra terakhir meninggal 3 tahun sebelum Masehi. Itu artinya jarak antara hidup kita saat ini dan masa Cleopatra lebih pendek dibandingkan durasi pembangunan piramid.

Faktanya, Cleopatra bukanlah berasal dari Mesir, namun ia berasal dari Makedonia dan Yunani. Karena dinasti Makedonia dan Yunani ini memerintah selama 300 tahun di Mesir setelah meninggalnya Alexander The Great.

Sebelum meninggal, Alexander Agung membangun kekaisarannya yang terbentang dari Mesir di Gurun Libya bagian Barat hingga ke wilayah perbatasan India yang sangat luas. Namun setelah Alexander Agung meninggal, wilayah yang luas itu dibagi-bagi oleh panglimanya.

Panglima Seleucus menguasai wilayah tengah, lalu wilayah Barat (Mesir dan sekitarnya) dikuasai oleh Ptelomius (bukan penemu rumus geosentris ya, tapi Panglima Ptelomius) dengan ibukota Alexandria di Mesir.

Hingga Ptelomius ke-III pemerintahannya sangat adil dan maju. Namun lama kelamaan semakin mundur, hingga lahirlah seorang perempuan keturunan Ptelomius, yaitu Cleopatra ke-7. Ia memerintah bersama Ayahnya (Ptelomius XII).

Cleopatra dan Pesonanya

Semua orang memuji kecantikan Cleopatra dan juga kecerdasannya. Tidak hanya menguasai banyak bahasa, tapi Cleopatra juga menjadi administrator ulung dan negosiator hebat dalam melobi pemimpin-pemimpin negeri lain.

Saat itu tradisi di keluarga Paraoh Mesir adalah perkawinan sedarah (incest) dan Cleopatra dinikahkan dengan adiknya (Ptelomius XIII). Namun karena pasangannya ini menurut Cleopatra tidak bisa diajak kerjasama dalam memerintah Mesir ditambah lagi ia sangat bodoh, maka Cleopatra meninggalkannya dan memerintah Mesir secara independen. Hingga para Menteri dan Penasihat khawatir.

Suatu ketika Plotinus memimpin perencanaan kuteda terhadap Cleopatra, sampai ia mendudukkan Ptelomius XIII di tahta. Sehingga bisa lebih mudah dikembalikan. Adapun Cleopatra melarikan diri dari Alexandria menuju daerah Luxor ketika terjadi pemberontakan.

Lalu terjadilah satu insiden, yaitu terjadinya perang saudara di Roma antara Jenderal Julius Caesar dan Jenderal Pompeius. Jenderal Pompeius ini melarikan diri ke Mesir dan berharap mendapatkan perlindungan di sana. Namun malangnya ia justru dibunuh oleh Ptelomius XIII. Kejadian ini membuat Roma tersinggung.

Adapun Jenderal Julius Caesar yang semula mengejar Pompeius untuk membunuhnya juga, terusik dengan sikap Mesir yang terlebih dahulu membunuh Pompeius. Saat itu Julis Caesar berkata :

Mesir kami hukum karena membunuh seorang Jenderal Romawi yang kami hormati.

Ptelomius XIII akhirnya melarikan diri dengan menceburkan dirinya di sungai Nil. Lalu adik Ptelomius XIII akan diangkat menjadi Ratu Mesir. Namun sebelum pengangkatan terjadi, datanglah Cleopatra dengan cara yang luar biasa yang sering digambarkan di film-film.

Tubuhnya digulung dengan permadani, lalu dipikul oleh dua orang dan dibawa ke hadapan Julius Caesar. Lalu permadani digelar dan Cleopatra berguling-guling hingga berada di hadapan Julius Caesar. Di situlah mereka jatuh cinta, dan akhirnya mereka pun menikah.

Masalahnya adalah Julius punya istri di Roma, sedangkan bersama Cleopatra ia akhirnya memiliki anak dan Julius membawa anak dan istrinya (Cleopatra) ke Roma. Namun banyak orang yang tidak menyetujuinya dan memprotesnya. Sayangnya Julius tidak mengindahkannya. Hingga perlakuannya pada Cleopatra lebih manis ketimbang pada istri pertamanya. Masyarakat Roma menyayangkan hal ini dan yang dilakukan Julius menimbulkan ketidakpuasan penduduk Roma kala itu.

Tentu akumulasi dari berbagai ketidakpuasan, tidak hanya soal keluarga tapi juga soal politik. Akhirnya Julius Caesar dibunuh oleh komplotan. Akhirnya Cleopatra dan anaknya kembali ke Mesir, dan saat itu Roma menjadi kacau.

Kacaunya Roma dan Lahirnya Pemimpin Baru

Setelah itu terbentuklah Triumvirat ke-2 (trio jenderal yang bersekutu untuk menindak orang-orang yang melakukan kejahatan pada Julius Caesar) yang dipimpin oleh anak angkat sekaligus keponakan Julius Caesar yang bernama Octavianus Augustus.

Octavianus ini punya dua teman, yang satu bernama Lepidus dan yang lainnya bernama Marcus Antonius. Namun pada akhirnya Lepidus tersingkir karena kuatnya persekutuan akibat pernikahan antara Octavia (saudarinya Octavianus) dan Marcus.

Akhirnya Octavianus menguasai Eropa dan Marcus menguasai wilayah Mesir (Mesir, Yordania, Suriah, sampai ke Asia kecil). Tentu Octavianus tidak puas, ia tidak ingin Roma terbagi dan ingin menyatukannya.

Namun ketika Marcus Antonius mengambil kekuasaan di Mesir, ia jatuh cinta pada Cleopatra, dan akhirnya mereka menikah selama 10 tahun dan dikaruniai 3 orang anak. Di satu titik, Octavianus Augustus mengirim surat berisi kritik untuk Marcus dan menginginkan kekuasaan Marcus untuk diambil alih karena Marcus dianggap tidak menghormatinya dan bangsanya.

Lalu pada tahun 32 Sebelum Masehi, Octavianus mengirim pasukan terbesar yang pernah dilihat oleh Roma untuk menggempur Marcus Antonius dan Cleopatra. Tentu dalam pertempuran itu ia kalah karena tidak seimbang dan tidak siap. Saat Octavianus berhadapan dengan Marcus, ia mengampuninya. Namun ada seseorang yang meneriakkan saat itu bahwa Cleopatra sudah mati. Berkatalah Marcus yang sangat mencintai Cleopatra :

“Kalau ia mati, lalu apa gunanya aku hidup.” Lalu Marcus pun mengambil pedang dan bunuh diri di hadapan Octavianus. 

Padahal Cleopatra masih hidup. Peneliti sejarah mengatakan itu termasuk dalam rencana Octavianus agar ia tidak disalahkan atas terbunuhnya Marcus.

Begitu Cleopatra mengetahui Marcus meninggal, ia juga tidak kuat untuk hidup. Lalu Cleopatra memilih untuk meminum racun. Konon katanya racun yang diminum adalah racun ular.

Adapun anak Cleopatra dan Julius Caesar yaitu Caesarion dibunuh oleh Octavianus yang dianggapnya sebagai ancaman. Sehingga tersisa tiga anak dari Cleopatra dan Marcus. Ketiga anak tersebut dibawa ke Roma oleh Octavianus dan diserahkan pada Octavia (istri Marcus di Roma).

Di sinilah dinasti di Mesir berakhir dan Mesir menjadi sebuah provinsi yang menjadi bagian dari kekaisaran Romawi pada tahun itu.

Hasil penelitian modern menunjukkan bahwa Cleopatra ini memang sangat cakap dan kompeten untuk memerintah Mesir, karena di zaman pemerintahannya Mesir mengalami kemajuan dan kemakmuran.

Namun itu saja tidak cukup untuk melawan salah satu kekuatan terbesar di dunia saat itu, yaitu Pemerintahan Romawi di bawah kepemimpinan Octavianus Augustus yang lebih berambisi dan berkharisma daripada Julius Caesar. Bahkan ada yang menjadikannya dewa.

Itulah kisah Cleopatra dan dua pemimpin Roma yang menyisakan jejak sejarah tentang bagaimana pesona Cleopatra mampu menggoyangkan kekaisaran raksasa itu. Namun karena patah hati harus terpisah dengan belahan jiwa, akhirnya Cleopatra memilih untuk mengakhiri hidup sekaligus kekuasaannya di Mesir.

Semoga artikel ini bermanfaat dan tunggu resume episode berikutnya ya! Jangan lupa ikuti Seri Patah Hati dan Perempuan Peradaban di sini yuk!

 

 

 

Leave a Comment

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)